PBNU Targetkan 1.000 Titik SPPG di Seluruh Indonesia, Perkuat Gizi Nasional dari Pesantren

Kediri,montera.co.id– Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tancap gas dalam mendukung program prioritas nasional melalui sektor kesehatan dan pangan.

PBNU menargetkan pembangunan lebih dari 1.000 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh penjuru Indonesia guna memastikan akses gizi optimal bagi masyarakat dan kaum santri.

​Penegasan ini disampaikan dalam acara peresmian SPPG NU dan Business Matching Supply Chain Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digelar di area Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Selasa (14/04/2026).

Gus Yahya: SPPG sebagai Simpul Ketahanan Pangan
​Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menjelaskan bahwa saat ini telah ada lebih dari 250 SPPG yang telah beroperasi. Kehadiran SPPG ini merupakan bagian dari komitmen PBNU dalam mengawal kualitas sumber daya manusia secara inklusif.

​”Kami menargetkan lebih dari 1.000 titik SPPG di seluruh Indonesia. Untuk di Lirboyo sendiri, dengan jumlah santri mencapai 52 ribu, idealnya dibutuhkan 15 hingga 20 SPPG. Saat ini baru dua yang berjalan, dan kami sedang mendorong akselerasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menambah enam unit lagi dalam waktu dekat,” ungkap Gus Yahya.

​Menurutnya, SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur distribusi makanan, tetapi juga diharapkan menjadi simpul-simpul strategis bagi inisiatif ketahanan pangan masyarakat di tingkat lokal.

Dukungan Pemerintah Kota Kediri untuk Indonesia Emas
​Hadir dalam acara tersebut, Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin (Gus Qowim), menyambut hangat langkah besar PBNU. Ia menilai keberadaan SPPG di Kota Kediri, khususnya di lingkungan pesantren, sangat sejalan dengan visi pemerintah pusat dalam menjemput cita-cita Indonesia Emas 2045.

​”Pemkot Kediri sangat mendukung. Tadi ada hal menarik, masyarakat ternyata sudah sangat sadar akan pentingnya gizi. Jika ada menu yang kurang sesuai, mereka langsung melapor. Ini membuktikan bahwa edukasi gizi mulai berhasil, dan tugas kita adalah memberikan yang terbaik bagi generasi mendatang,” tutur Gus Qowim.

Dampak Ekonomi dan Literasi Keuangan Syariah
​Selain fokus pada gizi, kegiatan di Ponpes Lirboyo ini juga mencakup aspek pemberdayaan ekonomi melalui business matching. Program MBG yang dikelola melalui unit usaha NU ini terbukti membawa dampak ekonomi yang luas.
​Penyerapan Tenaga Kerja: Program ini telah melibatkan sekitar 1,2 juta masyarakat yang bekerja di sektor SPPG di seluruh Indonesia.

​Kerjasama Perbankan: Dilakukan penandatanganan perjanjian layanan perbankan syariah antara PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan SPPG Lirboyo sebagai upaya penguatan literasi keuangan di lingkungan pesantren.

Cakupan Manfaat: Hingga saat ini, penerima manfaat dari program gizi ini telah mencapai angka 62 juta jiwa di seluruh Indonesia.

Sinergi Tokoh Bangsa
​Acara ini turut dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya Ketua Tim Koordinasi dan Akselerasi Program MBG Alissa Wahid, Wakil Kepala BGN Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, serta jajaran OJK yang dipimpin oleh Dicky Kartikoyono.

​Dari jajaran ulama, hadir Ketua PCNU Kota Kediri KH Abu Bakar Abdul Jalil (Gus Ab) dan Rais Syuriah PCNU Kota Kediri KH Abu Bakar Abdul Qodir, beserta para pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.

​Dengan peresmian 27 unit SPPG tahap ke-5 secara serentak, termasuk unit SPPG Kota Kediri Mojoroto Lirboyo 3, PBNU optimis bahwa pesantren akan menjadi pilar utama dalam memerangi masalah gizi dan memperkuat ekonomi kerakyatan di masa depan.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *