Kediri,Montera.co.id– Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 tahun 2026 tidak hanya dirayakan dengan upacara bendera. Di Kota Kediri, semangat kebangkitan itu diterjemahkan dalam aksi nyata menyelamatkan nyawa. PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun menggandeng Generasi Z—pelajar dan mahasiswa—untuk menjadi garda terdepan dalam kampanye keselamatan perkeretaapian.
Bertempat di Perlintasan Sebidang Nomor 286, kawasan Stasiun Kediri, Jalan Hasanudin, Rabu (20/5/2026), ratusan anak muda hadir dengan satu misi: “Jaga Generasi Muda, Wujudkan Kedaulatan Negara.”
Gen Z: Agen Perubahan dari Rumah ke Masyarakat
Tohari, Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun, menekankan bahwa melibatkan kaum muda adalah strategi kunci. Mereka bukan sekadar peserta, melainkan duta keselamatan yang akan membawa pesan disiplin lalu lintas hingga ke tingkat paling dasar: keluarga dan tetangga.
“Kami ingin teman-teman Gen Z ini menjadi corong informasi. Mulai dari mengingatkan orang tua di rumah, hingga menyebarkan kesadaran kepada masyarakat luas. Disiplin berlalu lintas adalah bentuk cinta tanah hari ini,” ujar Tohari di lokasi kegiatan.
Mengapa Jalur Tunggal Kediri?
Pemilihan lokasi di jalur tunggal Kediri bukanlah tanpa alasan. Berbeda dengan jalur ganda, jalur tunggal memiliki dinamika lalu lintas kereta yang lebih kompleks karena memungkinkan pergerakan kereta dari dua arah yang berbeda pada satu rel. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra tinggi.
“Di jalur tunggal, risiko kesalahan persepsi arah datang kereta lebih besar. Maka, kedisiplinan di perlintasan sebidang ini adalah harga mati. Ini sesuai amanat UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” tegas Tohari.
Ia mengingatkan, aturan utamanya sederhana namun sering diabaikan: Segera berhenti saat sirine berbunyi atau palang pintu mulai turun, dan wajib mengutamakan kereta api.
Fakta Pahit: Kecelakaan Masih Didominasi “Human Error”
Meski infrastruktur terus diperbaiki, Tohari mengakui angka kecelakaan di wilayah Daop 7 (Madiun, Kediri, dan sekitarnya) masih mengkhawatirkan di tahun 2026. Ironisnya, hampir seluruh insiden bukan disebabkan oleh kegagalan teknis, melainkan kelalaian manusia.
“Faktanya, mayoritas korban adalah mereka yang memaksa menerobos palang pintu atau nekat melintas saat kereta sudah terlihat jelas. Ini murni ketidakpatuhan terhadap aturan,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Untuk menekan angka tersebut, PT KAI terus berkolaborasi dengan Polisi Khusus Perkeretaapian (Polsuska), komunitas Railfan, dan tokoh masyarakat untuk mengawasi perlintasan, baik yang dijaga maupun tidak.
Hafalkan “BERTEMAN”: Rumus Selamat Melintas Rel
Agar pesan keselamatan lebih mudah diingat, terutama bagi generasi muda, PT KAI meluncurkan akronim cerdas #BERTEMAN:
✅ Berhenti saat mendengar tanda bahaya (sirine/palang turun)
✅ Evaluasi situasi (jangan panik)
✅ Reliakan ego (utamakan kereta)
✅ Tengok kiri dan kanan
✅ Estimasikan jarak dan kecepatan kereta
✅ Mastikan jalan benar-benar aman
✅ Aman baru melintas
✅ Nikmati perjalanan tanpa celaka
Para pelajar dan mahasiswa yang hadir dalam acara ini kini telah dibekali pengetahuan tersebut. Tugas mereka selanjutnya adalah menjadi “virus kebaikan” yang menularkan budaya tertib berlalu lintas di sekolah dan lingkungan tempat tinggal mereka.
Dengan semangat Harkitnas, PT KAI berharap kesadaran kolektif masyarakat Kediri dapat bangkit. Karena kedaulatan negara dimulai dari hal kecil: menghormati aturan dan menghargai nyawa.(Dan/Ali)







