Kediri,Montera.co.id– Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kembali menegaskan posisi strategis Provinsi Jawa Timur sebagai tulang punggung sekaligus penopang utama produksi gula nasional. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan percepatan program bongkar ratoon tebu di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/5/2026).
Dalam kunjungan kerja tersebut, Khofifah didampingi Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kediri, serta para pejabat tinggi dinas perkebunan dan pelaku industri gula nasional. Langkah ini merupakan wujud nyata komitmen daerah mendukung target swasembada gula yang dicanangkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Bongkar Ratoon Kunci Produktivitas, Ekosistem Pasca Panen Harus Dijamin
Menurut Gubernur Khofifah, program bongkar ratoon atau pembaruan tanaman tebu menjadi strategi paling efektif untuk meningkatkan kualitas bibit, produktivitas lahan, serta angka rendemen gula yang dihasilkan petani. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada aspek budidaya semata.
“Percepatan bongkar ratoon harus terus didorong dan dilakukan secara masif. Tapi yang tak kalah penting, ekosistem pasca penggilingan gula juga harus dipastikan berjalan baik. Petani butuh kepastian, bukan hanya saat menanam, tapi jaminan pasar dan harga setelah panen,” tegas Khofifah.
Ia mengungkapkan, permasalahan mendasar yang sempat melanda petani tebu beberapa waktu terakhir bukan soal rendahnya harga beli, melainkan ketiadaan penyerapan hasil produksi saat proses lelang berlangsung. Kondisi ini membuat hasil jerih payah petani menumpuk dan tidak memiliki nilai jual yang jelas.
Gula Rafinasi Banjir Pasar, Produksi Petani Jadi Tak Kompetitif
Salah satu penyebab utama tersendatnya penyerapan gula petani, menurut Khofifah, adalah membanjirnya peredaran gula rafinasi impor yang seharusnya hanya dikhususkan untuk bahan baku industri, namun justru masuk dan dijual bebas di pasar konsumsi masyarakat.
Hal inilah yang membuat gula kristal putih hasil produksi tebu dalam negeri sulit bersaing. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun kini gencar mendorong pengawasan ketat terhadap jalur impor dan distribusi gula rafinasi.
“Kalau gula rafinasi masuk sembarangan ke pasar konsumsi, tentu gula hasil petani kita menjadi tidak kompetitif sama sekali. Kami pastikan pengawasan diperketat agar aturan mainnya jelas: rafinasi hanya untuk industri, pasar konsumsi dipenuhi produksi petani lokal,” jelasnya tegas.
Khofifah kembali menegaskan, peran Jawa Timur sangat menentukan bagi ketahanan pangan nasional, mengingat sebagian besar kebutuhan gula Indonesia saat ini bergantung pada hasil panen dari provinsi ini.
85 Persen Produksi Nasional Berasal dari Jatim, Kediri Targetkan 7.000 Hektar
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi, membenarkan data tersebut. Ia menyebutkan bahwa kontribusi Jawa Timur terhadap produksi gula nasional saat ini mencapai angka 85 persen. Angka ini menempatkan provinsi ini sebagai ujung tombak pencapaian swasembada nasional.
“Tahun ini target bongkar ratoon secara nasional mencapai 97 ribu hektar, dan Jawa Timur adalah penopang utamanya. Di sini, Kabupaten Kediri menjadi salah satu daerah dengan target tertinggi, yakni mencapai 7.000 hektar. Alhamdulillah, untuk saat ini sudah terbit SK penetapan untuk lebih dari 2.000 hektar,” ungkap Mahmudi.
Program pembaruan tanaman ini bertujuan meningkatkan kapasitas giling pabrik, menaikkan angka rendemen gula, hingga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani tebu.
Kediri Sebagai Sentra Utama: Luas Lahan 22 Ribu Hektar, Capaian 2025 Mencapai 3.864 Hektar
Sementara itu, Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, yang mewakili Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, menjelaskan bahwa wilayahnya memang sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra tebu terbesar di Jawa Timur. Saat ini, total luas lahan pertanian tebu di Kabupaten Kediri tercatat mencapai 22.297 hektar.
Pada tahun 2025 lalu, capaian pelaksanaan bongkar ratoon di Kediri tercatat cukup baik, mencapai 3.864 hektar, yang dikerjakan baik melalui dukungan anggaran APBN maupun swadaya masyarakat petani sendiri.
Pemkab Kediri juga terus mendukung ketersediaan sarana produksi, mulai dari penyaluran bantuan alat pertanian berupa traktor hingga pendampingan teknis budidaya agar hasil panen makin maksimal.
“Kami berharap kolaborasi kuat antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten terus diperkuat. Tujuannya satu: agar petani tebu Kediri makin produktif, kualitas makin baik, dan kesejahteraannya meningkat seiring target swasembada gula nasional,” ujar Mbak Dewi, sapaan akrabnya.
Melalui percepatan pembaruan tanaman dan penguatan tata niaga, Jawa Timur kini diproyeksikan menjadi penentu keberhasilan Indonesia mewujudkan kemandirian gula, baik untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun bahan baku industri dalam beberapa tahun ke depan.(Dan/Ali)







