Dukungan Mengalir ke Lirboyo, KH Basori Alwi Usul Solusi Cerdas Atasi Mitos “Kediri Angker” untuk Muktamar NU

Kediri ,Montera.co.id– Persaingan bursa calon tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) berikutnya kian memanas. Dari lima provinsi yang masuk dalam radar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jawa Timur muncul sebagai kandidat terkuat. Di tengah hiruk-pikuk ini, suara dukungan dari akar rumput semakin lantang, salah satunya datang dari Kediri.

KH Basori Alwi, Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Ibaad di Desa Sanginu, Kecamatan Plemahan, secara terbuka menyatakan dukungannya agar hajatan akbar warga Nahdliyin itu digelar di Jawa Timur, dengan menitikberatkan lokasi utama di Pondok Pesantren Lirboyo.

Pulang Kampung Para Alumni NU

Bagi KH Basori, Lirboyo bukan sekadar institusi pendidikan Islam raksasa. Ada ikatan batin dan sejarah perjuangan yang tak terpisahkan antara Lirboyo dan garis ideologi NU.

“Alhamdulillah, jika PBNU sudah memberikan wacana tersebut, kami dari Ponpes Roudhotul Ibaad sangat mendukung jika digelar di Jawa Timur. Harapan kami, bisa dipusatkan di Lirboyo,” ujar KH Basori dengan nada optimis saat ditemui di kediamannya, Jumat (3/7).

Alasan utamanya bersifat historis dan kultural. Menurutnya, mayoritas pengurus PCNU hingga tingkat ranting di seluruh Indonesia adalah alumni Lirboyo. Maka, menggelar Muktamar di sana akan menjadi momentum silaturahmi akbar sekaligus “pulang kampung” bagi para kader NU.

“Lirboyo ini pondok besar yang sangat mencintai dan memperjuangkan NU. Ini momen tepat bagi alumni untuk kembali ke pondok,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa bagi pesantren-pesantren kecil seperti miliknya, keputusan para masayikh (sepuh) Lirboyo dan Ploso selalu menjadi rujukan utama. “Kami sangat sam’an wa tho’atan (mendengar dan patuh),” tambahnya.

Taktik Jitu Menjawab Mitos “Kediri Angker”

Salah satu tantangan psikologis yang sering menghiasi wacana penyelenggaraan acara kenegaraan di Kediri adalah mitos lama. Kepercayaan populer menyebutkan bahwa Kediri dianggap “kurang ramah” bagi presiden atau pejabat tinggi karena kekhawatiran akan turun dari jabatan (lengser).

Menanggapi hal ini, KH Basori menawarkan solusi yang taktis, bijak, dan memecah kebuntuan. Ia mengusulkan pemisahan lokasi antara seremonial pembukaan dan inti persidangan.

“Solusinya sederhana: pembukaan Muktamar bisa dilaksanakan di kabupaten sekitar Kediri, misalnya di Jombang, Blitar, atau daerah terdekat lainnya. Itu tidak apa-apa,” usulnya sembari tersenyum.

Dengan skema ini, prosesi kenegaraan yang melibatkan Presiden dan jajaran menteri tetap berjalan lancar dan bebas dari beban mitos di luar wilayah Kediri. Sementara itu, seluruh rangkaian persidangan, diskusi, dan inti kegiatan Muktamar tetap dapat diselenggarakan di jantung budaya NU, yakni Lirboyo.

Infrastruktur Siap, Akses Mudah

Selain kekuatan kultural, KH Basori menyoroti kesiapan infrastruktur Kediri yang kini jauh lebih mumpuni. Bandara Dhoho Kediri, jaringan jalan tol, dan fasilitas umum lainnya dinilai sudah sangat memadai untuk menampung ribuan delegasi dari berbagai daerah.

“Fasilitas di Lirboyo dan sekitarnya sangat mendukung. Akses bandara dekat, jalan besar tersedia, semuanya memudahkan peserta,” pungkasnya.

Kombinasi antara kematangan infrastruktur modern dan karisma kultural Pondok Pesantren Lirboyo dinilai menjadi modal sosial yang lebih dari cukup untuk menyukseskan gelaran Muktamar NU mendatang. Dukungan dari tokoh seperti KH Basori Alwi menjadi sinyal kuat bahwa Jawa Timur, khususnya Kediri, siap menjadi rumah bagi pertemuan terbesar umat Islam tradisional di Indonesia.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *