Kediri,Montera.co.id – Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2026 di Kota Kediri diwarnai kabar miring. Menanggapi keresahan wali murid terkait dugaan praktik manipulatif dan “titip-menitip” siswa, Perkumpulan Saroja (Sahabat Boro Jarakan) resmi melayangkan surat pemberitahuan aksi damai ke Polres Kediri Kota, Kamis (2/7/2026).
Lembaga kontrol sosial masyarakat ini berencana turun ke jalan untuk menuntut keadilan bagi para calon siswa yang haknya diduga telah dirampas oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Menodai Marwah Pendidikan di Kota Kediri
Dugaan mengenai adanya celah dalam sistem penerimaan siswa baru tahun ini rupanya bukan sekadar isapan jempol belaka. Perkumpulan Saroja mengaku telah mengantongi sejumlah aduan dari masyarakat yang merasa dirugikan oleh sistem seleksi yang dinilai janggal.
”Kami menyikapi serius isu yang beredar luas di masyarakat mengenai dugaan tindakan manipulatif dalam SPMB tingkat SMP tahun 2026 ini,” ujar Supriyo Dewan Pengawas yang diamini Imam Sopi’i Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi dari Perkumpulan Saroja.
Menurutnya, aduan yang masuk mencakup indikasi kuat adanya praktik titip-menitip siswa yang disertai dugaan suap-menyuap. Kondisi ini dinilai sangat mencederai prinsip keadilan dan menodai marwah dunia pendidikan, khususnya di wilayah Kota Kediri.
Tiga Tuntutan Utama Saroja ke Dinas Pendidikan
Aksi damai yang rencananya akan digelar pada Senin, 6 Juli 2026 mendatang ini akan berpusat di Kantor Dinas Pendidikan Kota Kediri. Sekitar 50 orang massa dikabarkan siap bergerak dari titik kumpul Markas Saroja di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, menuju jantung kota.
Ada tiga poin krusial yang menjadi tuntutan utama dalam pergerakan ini:
Transparansi Penuh: Mendesak pihak terkait untuk membuka secara transparan seluruh proses dan data SPMB tingkat SMP tahun 2026.
Kembalikan Hak Siswa: Menuntut pengembalian hak-hak calon siswa yang tersingkir akibat kecurangan atau permainan dari makelar pendaftaran.
Sanksi Tegas Oknum Nakal: Meminta penindakan hukum dan sanksi tegas bagi oknum-oknum yang terbukti bermain curang dalam proses seleksi.
Massa juga menyiapkan alat peraga berupa bendera, banner, serta satu unit pengeras suara (sound system) untuk menyuarakan aspirasi mereka agar didengar oleh para pemangku kebijakan.
Membuka Ruang Dialog dan Audiensi
Meski telah melayangkan surat pemberitahuan aksi massa, Perkumpulan Saroja menegaskan bahwa gerakan ini bersifat damai. Mereka bahkan membuka pintu selebar-lebarnya jika pihak Dinas Pendidikan Kota Kediri memilih jalan dialog.
”Aksi damai ini pada prinsipnya bisa diganti dengan forum audiensi, asalkan ada iktikad baik dan kehendak langsung dari Dinas Pendidikan Kota Kediri untuk duduk bersama menyelesaikan masalah ini,” tambahnya di akhir keterangannya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Kota Kediri, terutama para orang tua murid, berharap ada kejelasan dan evaluasi menyeluruh dari pemerintah daerah agar hak anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak tidak dicurangi oleh praktik koruptif.(Dan/Ali)







