Delapan Hari Merayakan Kreativitas, Mempertemukan Seniman Lintas Daerah dan Komunitas di Kota Kediri

Arte De Amore, Saat Seni dan Cinta Menjadi Gerakan Kreatif Anak Muda 

Kediri,Montera.co.id — Seni tidak selalu harus hadir dalam bentuk pameran yang kaku. Di tangan anak-anak muda Kota Kediri, seni justru dirayakan sebagai ruang bertemu, berkolaborasi, sekaligus bentuk cinta terhadap kreativitas.
Semangat itulah yang coba dihadirkan melalui Arte De Amore, sebuah perhelatan seni yang mempertemukan berbagai disiplin kreatif serta komunitas dari Kota Kediri dan sejumlah daerah lain.
Mengusung gagasan bahwa seni merupakan salah satu bentuk cinta, Arte De Amore menjadi ruang bagi seniman dan anak muda untuk mengekspresikan karya sekaligus membangun ekosistem kreatif secara bersama-sama.
Berawal dari Kolaborasi Kecil
Inisiator Arte De Amore, Ahmad Farid Abdillah, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari sebuah gagasan sederhana. Menurutnya, gerakan kreatif tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
“Arte De Amore adalah bagaimana memandang seni sebagai sebuah cinta. Bagaimana movement kecil berangkat dari beberapa kolaborasi komunitas menjadi gerakan atau tenaga besar berjalannya kreativitas anak muda di Kota Kediri,” ungkap Farid.

Gagasan itu kemudian berkembang menjadi sebuah perhelatan yang melibatkan banyak seniman dan komunitas. Bukan hanya dari Kediri, sejumlah seniman dari luar daerah juga ikut ambil bagian.

Dari Lukisan hingga Musik Elektronik
Arte De Amore menghadirkan beragam bentuk seni dalam satu ruang. Pengunjung bisa menemukan performance art, seni rupa, lukisan, ilustrasi, instalasi, fashion, komedi hingga musik elektronik.

Kolaborasi tersebut bahkan melibatkan puluhan disc jockey (DJ) yang tampil dalam rangkaian kegiatan.

“Untuk seniman, kita kolaborasi bareng ada seniman Jakarta, seniman Bali, seniman Malang, berkolaborasi dengan 20 seniman Kediri. DJ yang tampil di Arte De Amore sekitar 26 DJ,” jelas Farid.

Selain seniman, sejumlah komunitas juga ikut terlibat. Di antaranya komunitas motor custom, komunitas pelari hingga para stand up comedian dari wilayah Kediri.

Menurut Farid, keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan utama Arte De Amore. Setiap orang datang dengan latar belakang, selera dan cara menikmati seni yang berbeda.

Seperti Mengisi Piring dengan Selera Masing-Masing
Menyatukan berbagai disiplin seni dalam satu kegiatan tentu bukan perkara mudah. Namun Farid memilih melihat perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang menarik.
Ia mengibaratkan beragam karya dan kreativitas yang hadir di Arte De Amore seperti nasi dengan berbagai pilihan.

“Semua punya disiplin kreatif atau semangat kreatif masing-masing. Ketika itu diumpamakan sebuah nasi, mungkin ada nasi merah, ada nasi kuning, ada nasi putih,” tuturnya.

Bagi Farid, setiap pengunjung bebas menentukan sendiri apa yang ingin dinikmati.

“Artinya bagaimana menikmati, memenuhi piringnya masing-masing dari semangat disiplin kreatif yang berbeda-beda,” lanjutnya.

Kafe Bukan Sekadar Tempat Nongkrong
Arte De Amore berlangsung di Venti Curv, sebuah kafe di kawasan Pagora, Kota Kediri. Tempat tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu ruang yang banyak dikunjungi anak muda.

Namun melalui Arte De Amore, ruang tersebut mendapat fungsi lain. Kafe tidak hanya menjadi tempat untuk bertemu dan menghabiskan waktu, tetapi juga bisa menjadi ruang tumbuhnya kreativitas.
Perhelatan ini berlangsung selama delapan hari, mulai 11 hingga 18 September 2026. Durasi tersebut menjadikan Arte De Amore sebagai salah satu pameran kreatif yang digelar cukup panjang di Kota Kediri.

“Memperlihatkan bahwa kafe itu bukan hanya ruang bertemu, tapi bagaimana kreativitas bisa disalurkan,” kata Farid.

Membangun Ekosistem Kreatif Kediri
Lebih dari sekadar sebuah event, Farid berharap Arte De Amore bisa menjadi bagian dari gerakan yang lebih panjang untuk membangun ekosistem kreatif di Kota Kediri.

Ia ingin anak-anak muda memiliki ruang untuk berekspresi, bertemu dengan pelaku kreatif lainnya, sekaligus mendapatkan gambaran bahwa karya dan kreativitas bisa tumbuh ketika dikerjakan bersama.

“Sehingga anak-anak muda mempunyai gambaran yang sama untuk membangun kreatif di Kota Kediri. Harus lebih siap, lebih semangat, menyambut event-event kreativitas, terutama dalam seni lukis atau musik,” ujarnya.

Menurutnya, Kediri masih membutuhkan lebih banyak gerakan kreatif yang mampu mempertemukan berbagai komunitas dan disiplin seni.

“Kediri sangat butuh movement seperti ini untuk keberlangsungan event kreatif di Kediri,” tambahnya.

Menjadi Jembatan bagi Seniman Muda
Semangat tersebut juga dirasakan oleh seniman asal Kota Kediri, Dwi Agni. Ia menilai Arte De Amore bisa menjadi jembatan bagi seniman muda maupun mereka yang baru mulai masuk ke dunia kreatif.

Menurutnya, ruang seperti ini penting karena tidak hanya memperlihatkan karya, tetapi juga memberi pengalaman tentang bagaimana sebuah ekosistem seni bisa dibangun dari bawah.

“Sebagai jembatan bagi kita yang masih muda atau awal untuk tahu bagaimana rasanya atau bagaimana cara mengembangkan atau menghidupkan sebuah ekosistem secara organik,” ujarnya.

Bagi seniman muda, pengalaman bertemu dengan pelaku seni lain dari berbagai daerah juga menjadi kesempatan untuk saling bertukar gagasan dan melihat kemungkinan kolaborasi baru.

Pengunjung Ikut Terdorong untuk Berkarya
Antusiasme terhadap Arte De Amore juga datang dari pengunjung. Niko, salah seorang pengunjung, mengaku menikmati konsep yang ditawarkan.

Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya menarik untuk dinikmati, tetapi juga bisa memunculkan dorongan bagi para pelaku seni untuk berani menunjukkan karya mereka.

“Bagus, acaranya menarik. Saya sendiri kebetulan juga pelaku seni. Kalau ada teman yang suka juga ikut mendorong untuk ikut berkarya,” jelasnya.

Pada akhirnya, Arte De Amore tidak hanya berbicara tentang lukisan, musik, fashion atau pertunjukan. Lebih jauh, perhelatan ini mencoba mempertemukan orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap seni dalam satu ruang.

Dari sebuah kolaborasi kecil, muncul harapan agar gerakan tersebut bisa terus tumbuh dan menjadi bagian dari perjalanan ekosistem kreatif anak muda di Kota Kediri.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *