Dari Nanas Jadi Keripik Renyah, Suradi Buktikan Buah Kediri Bisa Naik Kelas

Berawal dari Keripik Singkong Manual, Nugraha Jaya Kini Punya Enam Varian dan Tembus Belasan Outlet

Kediri,Montera.co.id – Di tangan Suradi (66), nanas tak sekadar menjadi buah segar yang disantap begitu saja. Dari rumah produksinya di Dusun Kweden, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, buah bercita rasa manis-asam itu disulap menjadi keripik renyah bernilai jual.

Usaha tersebut diberi nama Nugraha Jaya. Dirintis sejak 2018, usaha milik Suradi awalnya hanya memproduksi keripik singkong dengan peralatan sederhana dan mengandalkan tenaga manual.

Seiring waktu, permintaan mulai meningkat. Suradi pun menghadapi persoalan baru. Produksi secara manual ternyata membuat kapasitas sulit ditingkatkan. Selain membutuhkan lebih banyak tenaga, proses penggorengan juga menuntut ketelitian agar tingkat kematangan keripik tetap terjaga.

“Awalnya memang dari keripik singkong, sebenarnya pakai manual. Tapi begitu perkembangan, sulit sekali kalau manual. Akhirnya saya beralih mencari mesin yang agak otomatis,” kata Suradi saat ditemui di rumah produksinya, Sabtu (3/10/2026).

Peralihan menggunakan mesin menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Nugraha Jaya. Proses produksi menjadi lebih terukur karena suhu dan kondisi vakum dapat diatur selama pengolahan.

Dari keripik singkong, Suradi kemudian terus bereksperimen dengan bahan pangan lainnya. Kini, sedikitnya ada enam produk Nugraha Jaya yang beredar di pasaran.

Mulai dari keripik nanas, pisang, tape, singkong, ubi ungu hingga nangka.

Di antara berbagai produk tersebut, keripik nanas menjadi salah satu yang cukup banyak diminati konsumen.

Setiap hari, Suradi memproduksi keripik nanas untuk memenuhi pesanan. Bahan bakunya didapat dari pasar grosir sebelum dibawa ke rumah produksi untuk melalui sejumlah tahapan pengolahan.

Menariknya, proses awal pengolahan nanas masih dikerjakan secara manual. Buah dikupas dan dipotong satu per satu.

Suradi bahkan memiliki cara tersendiri dalam mengolah nanas agar tetap nyaman dikonsumsi. Buah yang telah dipotong direndam terlebih dahulu menggunakan air garam.

Ia memilih garam berbutir besar dan tidak menggunakan garam beryodium. Setelah itu, potongan nanas kembali direndam dengan air biasa untuk menghilangkan sisa garam.

“Kami tidak menggunakan tambahan rasa. Dari awal saya rendam dengan garam, kemudian direndam lagi dengan air biasa. Jadi rasa garamnya luntur semua,” jelasnya.

Cara tersebut membuat rasa asli nanas tetap menjadi karakter utama produknya.

“Rasanya ori semua,” ujar Suradi.

Namun, mengolah nanas menjadi keripik ternyata membutuhkan perhatian khusus. Setelah digoreng, produk harus segera dikemas menggunakan metode vakum agar kerenyahannya tetap terjaga.

Suradi menyebut keripik nanas cukup sensitif terhadap udara. Terlalu lama dibiarkan terbuka dapat membuat teksturnya berubah.

“Kalau nanas tidak segera dipacking, sekitar satu jam di udara saja sudah tidak crispy lagi,” katanya.

Karena itu, keripik nanas Nugraha Jaya umumnya dikemas dalam ukuran 50 gram. Kemasan dengan ukuran serupa juga digunakan untuk berbagai produk keripik lainnya.

Untuk pemasaran, produk Nugraha Jaya kini telah masuk ke sekitar 13 outlet di wilayah Kediri dan sekitarnya. Jangkauan pemasaran bahkan mulai merambah Jombang.

Bukan hanya pasar sekitar Kediri. Produk Suradi juga pernah menarik perhatian konsumen dari luar Pulau Jawa.

Ia menceritakan, seorang pembeli dari Rokan Hilir, Riau, pernah datang langsung dan memborong produk Nugraha Jaya.

“Produk kami pernah diborong semuanya. Nanti kalau di sana akan membeli alat, kami akan dipanggil ke Rokan Hilir di Riau,” ungkapnya.

Momentum tertentu juga membuat permintaan melonjak. Ramadan dan menjelang Lebaran menjadi salah satu periode ketika pesanan meningkat cukup tajam.

Bahkan, sekitar tujuh hari sebelum Lebaran, Suradi biasanya mulai membatasi pesanan. Bukan karena tidak ingin menerima, tetapi kapasitas produksi yang masih terbatas membuatnya harus menghitung kemampuan produksi dengan cermat.

Apalagi, sejumlah pelanggan memesan dalam jumlah besar, bahkan langsung meminta produk dalam hitungan kilogram.

Dari sisi harga, masing-masing produk memiliki nilai jual berbeda. Keripik pisang dipasarkan sekitar Rp81.000 per kilogram, sedangkan keripik ubi ungu dan sukun sekitar Rp70.000 per kilogram.

Sementara itu, keripik nanas memiliki pola penjualan tersendiri. Produk ini lebih banyak dipasarkan dalam kemasan 50 gram dengan harga sekitar Rp13.500 per kemasan.

Kapasitas produksi yang masih terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi Suradi. Dalam satu kali produksi, ia menyebut hanya mampu menghasilkan sekitar 20 kemasan keripik nanas.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah sekaligus target pengembangan Nugraha Jaya ke depan.

Suradi ingin usaha yang dirintisnya sejak 2018 itu tidak selamanya bergantung pada pola pengelolaan sederhana. Ia mulai membayangkan adanya manajemen yang lebih profesional dengan pembagian tugas yang jelas.

“Ke depan kami ingin ada satu manajer tersendiri. Kemudian struktur organisasinya tertata, baik pemasaran maupun produksi,” tuturnya.

Selama ini, sebagian besar proses masih ditangani langsung oleh Suradi bersama orang-orang yang membantunya. Mulai dari produksi hingga pemasaran masih berjalan dengan pola yang sederhana.

Di tengah keinginan memperbesar usaha, Suradi juga tidak ingin aktivitas produksi meninggalkan banyak limbah.

Sisa bahan dari proses produksi dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali. Limbah tersebut dimasukkan ke dalam tong untuk kemudian diolah menjadi pupuk.

Perjalanan Nugraha Jaya menunjukkan bagaimana usaha rumahan bisa tumbuh dari langkah sederhana. Berawal dari keripik singkong yang dibuat secara manual, Suradi kini memiliki enam varian produk dan jaringan pemasaran di belasan outlet.

Keripik nanas menjadi salah satu produk yang menunjukkan kreativitas tersebut. Buah yang selama ini identik sebagai pangan segar bisa diolah menjadi camilan renyah dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Di tengah melimpahnya komoditas pertanian di Kabupaten Kediri, termasuk nanas yang banyak dikenal dari kawasan Kecamatan Ngancar, kisah Suradi menjadi gambaran bahwa bahan pangan lokal masih memiliki ruang untuk terus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *