Bukti otentik di nisan TMP Kalibata dan kesesuaian literatur sejarah menguatkan bahwa gugurnya Pahlawan Revolusi terjadi dini hari 1 Oktober 1965
Kediri,Montera.co.id – Sebuah wawasan sejarah penting mencuat dalam peringatan doa bersama untuk Pahlawan Revolusi yang digelar di Rumah Cagar Budaya Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Kamis dini hari (1/10/2026).
Acara yang dihadiri sesepuh, budayawan, hingga lintas komunitas ini berlangsung khidmat. Selain memanjatkan doa, forum ini juga menjadi ruang sarasehan kebangsaan untuk meluruskan fakta sejarah terkait waktu gugurnya para Pahlawan Revolusi.
Nisan di TMP Kalibata Jadi Bukti Otentik
Ketua Panitia sekaligus Pengelola Situs Ndalem Pojok, R.M. Kushartono, S.M., memaparkan temuan lapangan yang ia dapatkan langsung saat berziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
“Saya mendatangi langsung semua makam para Pahlawan Revolusi di Kalibata. Saya amati dan catat satu per satu nisannya, 100 persen semua tertulis gugur pada tanggal 1 Oktober 1965. Tidak ada satu pun yang tertulis gugur pada tanggal 30 September 1965,” tegas Kushartono.
Menurutnya, penanggalan ini juga selaras dengan rekonstruksi sejarah yang ada. Bahkan dalam film G30S/PKI sekalipun, peristiwa penculikan dan pembunuhan itu terjadi menjelang subuh atau dini hari, yang secara kalender sudah memasuki tanggal 1 Oktober.
“Atas dasar data otentik inilah, Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok memilih menyelenggarakan Kirim Doa Pahlawan Revolusi tepat pada malam 1 Oktober,” ujar Kushartono yang juga Ketua Departemen Pendidikan DPP Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan.

Guru Sejarah dan Budayawan Benarkan
Penjelasan tersebut dibenarkan oleh guru sejarah sekaligus penulis buku, Hendro Wijanarko. Setelah menelaah berbagai dokumen sejarah, ia mengonfirmasi ketepatan data tersebut.
“Betul itu. Setelah saya cermati dan buka data-datanya, memang betul para Pahlawan Revolusi meninggal pada 1 Oktober 1965, bukan 30 September. Ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam agar masyarakat luas tidak salah paham mengenai waktu gugurnya para pahlawan bangsa,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Ketua JKPHS (Jamiyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah) Kabupaten/Kota Kediri, Erny Nengtiyas.
“Alhamdulillah saya baru mengerti dan sadar, oh ternyata para Pahlawan Revolusi itu gugurnya pada tanggal 01 Oktober ya, sementara selama ini yang saya fahami adalah 30 September 1965. Saya sepakat ini menarik untuk didiskusikan lebih luas, karena saya yakin masih banyak orang yang mengira beliau wafat pada 30 September,” tuturnya.
Luruskan Sejarah dengan Semangat Persatuan
Budayawan Kediri sekaligus penggiat Seni Macapat, Ki Hada’, menggarisbawahi pentingnya menjaga persatuan di atas perbedaan penafsiran sejarah.
“Boleh kita berbeda pendapat, tetapi yang paling utama adalah kita harus tetap menjaga persatuan. Temuan mengenai gugurnya Pahlawan Revolusi pada 1 Oktober 1965 ini sangat layak dikaji lebih dalam agar kita menemukan kebenaran yang utuh, tanpa mengurangi rasa hormat jika ada pihak yang meyakini penanggalan 30 September,” tutur Ki Hada’.
Khidmat Doa dan Pemukulan Gong Tujuh Kali
Usai sarasehan, suasana berubah hening dan khusyuk. Penggiat budaya Ki Jeje menyampaikan prolog penggugah jiwa sebelum memimpin doa bersama yang diawali tradisi pemukulan gong sebanyak tujuh kali.
“Malam ini kita melaksanakan doa bersama untuk para Pahlawan Revolusi yang meninggal pada malam ini, yaitu 1 Oktober 1965. Mari kita siapkan diri kita untuk berdoa. Semoga semua arwah pahlawan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, semua amal ibadahnya diterima, dan semoga kita sebagai generasi penerus mampu melanjutkan cita-cita perjuangan mereka,” ucap Jeje.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa lintas agama dan selamatan sebagai bentuk penghormatan setinggi-tingginya kepada para Pahlawan Revolusi yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi keutuhan bangsa dan negara.(Dan/Ali)







