18 Tahun Dedikasi Jangkar Kelud: Perkuat Mitigasi Lingkar Gunung Kelud Lewat Aksi Lingkungan

Kediri, montera.co.id– Delapan belas tahun sudah komunitas Jangkar Kelud mendedikasikan diri sebagai garda terdepan mitigasi bencana sejak erupsi tahun 2007 silam. Menegaskan komitmen tersebut, komunitas yang mencakup wilayah Kediri, Blitar, dan Malang ini menggelar agenda silaturahmi sekaligus edukasi kebencanaan di area wisata Ragil Kuning, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Sabtu (18/4/2026).

​Kegiatan bertajuk riyayan komunitas ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, namun diisi dengan aksi nyata berupa reboisasi dan tabur benih ikan nila. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana di lereng Gunung Kelud kini bergeser ke arah pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Menjaga Napas Evakuasi Mandiri
​Koordinator Jangkar Kelud, Catur Sudarmanto atau yang akrab disapa Mbah Darmo, mengenang kembali kesuksesan evakuasi mandiri saat erupsi besar tahun 2014. Menurutnya, keberhasilan menyelamatkan banyak nyawa kala itu adalah buah dari edukasi yang konsisten.

​”Masyarakat mampu melakukan evakuasi secara mandiri karena ada proses edukasi dan pendampingan yang tidak pernah putus,” ujar Mbah Darmo.

​Ia juga menekankan pentingnya sinergi Pentahelix—kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga media. “Tidak ada yang paling hebat. Semua punya peran. Sekecil apa pun kontribusinya, itu sangat penting dan harus diapresiasi,” tegasnya di hadapan para relawan.

Waspada Kemarau Panjang dan Risiko Karhutla 2026
​Hadir dalam acara tersebut, Ketua Tim Pencegahan BPBD Jawa Timur, Dadang Iqwandy, memberikan peringatan terkait anomali cuaca. Musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan berlangsung sangat panjang, bahkan mencapai 24 dasarian di beberapa titik.

​”Hampir 90 persen kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebabkan oleh aktivitas manusia. Kami berharap di musim kemarau ini masyarakat saling menjaga, terutama di kawasan hutan lereng Kelud,” jelas Dadang.

​Mengingat Gunung Kelud adalah gunung api aktif dengan periodisasi erupsi yang tetap, Dadang memuji peran komunitas relawan sebagai ujung tombak informasi bagi masyarakat lokal.

​Pariwisata Berbasis Safety di Lereng Kelud
​Sektor ekonomi melalui pariwisata juga menjadi bahasan utama. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, mendukung penuh wisata alam di lereng Kelud asalkan dibarengi dengan kesadaran mitigasi.

​”Potensi wisata alam kita besar, tapi harus didukung infrastruktur memadai dan kesadaran akan keselamatan serta kebersihan,” kata Mustika. Ia juga mengajak para pengelola wisata untuk mulai disiplin dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik guna menjaga kelestarian alam Kelud.

​Edukasi Berkelanjutan di Kawasan Rawan
​Sebagai penutup rangkaian acara, para peserta dibekali materi manajemen risiko bencana dan simulasi penyelamatan diri. Dengan usia komunitas yang telah menginjak 18 tahun, Jangkar Kelud membuktikan bahwa ketangguhan sebuah wilayah tidak hanya dibangun oleh infrastruktur fisik, tetapi oleh militansi dan pengetahuan masyarakatnya.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *