Kediri,Montera.co.id– UIN Syekh Wasil Kediri menggelar acara ngopi bareng dengan masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan awak media, Rabu (13/5/2026) di Auditorium Lantai 4 Gedung Rektorat. Bertema pengembangan kampus melalui pembangunan dan pemanfaatan Gedung Kuliah Terpadu SBSN, kegiatan ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus wadah berbagi informasi mengenai transformasi, prestasi, dan rencana strategis pengembangan kampus yang masih berusia muda namun tumbuh pesat.
Jejak Sejarah: Dari IAIN Menjadi UIN Syekh Wasil Kediri
Rektor UIN Syekh Wasil Kediri, Prof. Dr. Wahidul Anam, dalam sambutannya menelusuri perjalanan panjang kampus ini yang bermula sejak 1 Juli 1965 sebagai cabang IAIN Sunan Ampel. Perjalanan sejarah terus berlanjut dengan perubahan bentuk menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kediri pada 21 Maret 1997 dengan tiga jurusan utama: Tarbiyah, Syariah, dan Dakwah.
Pada 7 April 2018, status kembali berubah menjadi IAIN Kediri, dan secara resmi bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2025 tertanggal 8 Mei 2025. Artinya, saat ini kampus baru berusia sekitar satu tahun delapan hari.
“Usia kami masih sangat muda, baru satu tahun lebih. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan masukan, dukungan, dan kritik membangun dari seluruh elemen masyarakat, ormas, maupun media agar kami bisa tumbuh dan berkembang lebih baik lagi,” ujar Wahidul Anam.
Perubahan status dari IAIN ke UIN membawa pergeseran besar: jika sebelumnya IAIN berfokus pada pendalaman ilmu keislaman, UIN kini mengusung konsep integrasi ilmu agama dan ilmu umum, membuka peluang akademik yang lebih luas, beragam, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Pengembangan Sarana Prasarana: Gedung Baru SBSN dan Aset Kampus
Salah satu fokus utama saat ini adalah pembangunan dan optimalisasi Gedung Kuliah Terpadu SBSN. Wahidul Anam menjelaskan bahwa UIN Syekh Wasil Kediri kini memiliki berbagai aset penting yang tersebar di beberapa lokasi, antara lain Gedung Rektorat, Gedung Pendidikan, Sport Center, Masjid Jami’ Abi Sa’roni, serta lahan pengembangan di wilayah Jogja-Karangboga.
Masjid Jami’ Abi Sa’roni sendiri memiliki nilai sejarah tersendiri, dibangun di atas tanah wakaf masyarakat setempat dan diabadikan nama pemberi wakaf sebagai bentuk penghormatan. Pengembangan lahan terus dilakukan agar seluruh aset dapat dimanfaatkan maksimal demi kenyamanan proses belajar mengajar.
“Konsep pengembangan kami adalah Modern, Great, The Future. Kami ingin kampus ini menjadi tempat yang inovatif, nyaman, dan berorientasi masa depan. Kami harap masyarakat dan media turut mengawasi dan memberikan masukan agar pembangunan ini tepat sasaran,” tambahnya.
Akses Pendidikan Terjangkau dan Berkualitas
Salah satu keunggulan yang disorot adalah biaya pendidikan yang sangat terjangkau bagi masyarakat luas. Wahidul Anam menjelaskan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) di UIN Syekh Wasil Kediri dibagi dalam tujuh kelompok, mulai dari UKT 1 sebesar Rp400.000 hingga UKT tertinggi sekitar Rp1 jutaan, tergantung program studi dan kemampuan ekonomi mahasiswa.
“Yang paling penting, tidak ada pungutan biaya lain di luar UKT. Setelah daftar ulang dan masuk, tidak ada lagi pungutan tambahan. Ini bentuk komitmen kami agar pendidikan tinggi berkualitas bisa diakses semua kalangan tanpa beban berat,” tegasnya.
Saat ini, kampus memiliki 4 fakultas, 33 program studi (S1, S2, hingga S3), dan menaungi lebih dari 6.000 mahasiswa. Sebanyak 11 program studi telah meraih akreditasi Unggul, dan kampus sendiri telah mendapatkan akreditasi Unggul serta sertifikasi ISO 2001. Bahkan, dalam kategori perguruan tinggi keagamaan, UIN Syekh Wasil Kediri masuk dalam 3 besar kampus paling informatif di Indonesia.
Sumber Daya Manusia: Dosen Berkualitas dari Dalam dan Luar Negeri
Kekuatan utama kampus juga terletak pada kualitas dosen. Saat ini terdapat 25 profesor, puluhan dosen bergelar doktor dan magister yang tersebar di berbagai disiplin ilmu. Keunikan lainnya, dosen UIN Syekh Wasil Kediri merupakan lulusan perguruan tinggi terbaik, baik dalam negeri maupun luar negeri, seperti Kanada, Perancis, Maroko, Mesir, Jerman, Taiwan, hingga Australia.
Meskipun 90% program studi berbasis keislaman, integrasi ilmu terus diperkuat agar lulusan tidak hanya paham agama, namun juga menguasai ilmu umum dan teknologi. Mahasiswa pun aktif berprestasi, mulai bidang akademik, penelitian, hingga kreativitas konten dan dakwah digital. Kampus juga menjalin kerja sama dengan Komisi Informasi Publik dan membuka akses seluas-luasnya bagi media untuk mendapatkan informasi yang akurat dan transparan.
Sinergi Bersama Masyarakat dan Media
Kegiatan “Ngopi Bareng” ini menjadi bukti komitmen kampus untuk tidak berjalan sendiri. Wahidul Anam mengundang seluruh elemen masyarakat, ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, Ansor, dan organisasi lainnya, serta rekan media untuk terus bersinergi.
“UIN ini lahir dari rahim masyarakat sejak tahun 1965. Visi pendiriannya sudah sangat jauh ke depan: mengkaji tafsir, hadis, hingga perbandingan agama agar kehidupan beragama semakin damai dan maju. Tanpa dukungan masyarakat dan media, kemajuan kampus tidak akan maksimal. Kami mohon dukungan, kritik, dan masukan agar UIN Syekh Wasil Kediri semakin bermanfaat bagi semua,” tutupnya. ( Dan/Ali )







