Jamasan Totok Kerot di Bulan Suro: Tradisi Sakral Warga Kediri Rawat Warisan Leluhur yang Pikat Peneliti Jepang

Masyarakat mengikuti prosesi Jamasan Totok Kerot pada Bulan Suro sebagai tradisi pelestarian budaya di Kabupaten Kediri.
Prosesi Jamasan Totok Kerot digelar pada Bulan Suro sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur yang masih dilestarikan oleh masyarakat Kediri.

Kediri,Montera.co.id– Suasana berbeda menyelimuti kawasan cagar budaya Totok Kerot, Kabupaten Kediri, pada momentum bulan Suro ini. Di bawah rimbun pepohonan dan hawa sakral yang khas, para juru pelihara berkumpul untuk satu misi: merawat warisan sejarah yang bisu tapi penuh makna.

Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) kembali menggelar Merti Cagar Budaya, tradisi tahunan berupa pembersihan atau jamasan. Tahun ini, ritual dipusatkan pada ikon magis Kediri, Arca Totok Kerot.

Tumpengan dan Doa Bersama untuk Keselamatan Warga Kediri
Sebelum prosesi jamasan dimulai, suasana khidmat sudah terasa di pelataran situs. Para tokoh sepuh berbalut pakaian adat memimpin ritual tumpengan dan doa bersama.

Ritus religius-budaya ini dipanjatkan khusus untuk memohon kelancaran, ketenteraman, dan keselamatan seluruh warga Kabupaten Kediri. Doa yang mengalun syahdu itu membawa harapan agar masyarakat senantiasa diberi keberkahan, bejo mulyo di dunia dan akhirat, menyambut tahun baru Jawa 1960 Be.

Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priatno, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar agenda formalitas. “Alhamdulillah, hari ini kita mengadakan Merti Cagar Budaya, berupa jamasan Arca Totok Kerot. Ini inisiatif mandiri yang luar biasa dari teman-teman juru pelihara cagar budaya di Kabupaten Kediri,” ujar Eko di lokasi, Rabu 9 Juli 2026.

Gerakan Mandiri Juru Pelihara, Bukan Proyek Dinas
Aksi tulus para juru pelihara mendapat dukungan penuh dari pimpinan daerah. Menurut Eko, gerakan ini bukti kesadaran menjaga warisan leluhur di Kediri sudah mengakar kuat.

“Kemarin sudah saya laporkan ke Pak Kepala Dinas, dan beliau sangat mendukung. Karena kegiatan jamasan ini sifatnya benar-benar mandiri. Teman-teman juru pelihara tergerak sendiri untuk melakukannya,” tambah Eko bangga.

Secara filosofis, merti atau amerti berarti merawat dan memelihara. Lewat momentum bulan Suro yang disakralkan dalam penanggalan Jawa, arca dibersihkan, disikat, dan dirawat agar lestari melewati zaman.


Pikat Mahasiswa S3 Kobe University Jepang
Aura magis Arca Totok Kerot ternyata tak hanya memikat warga lokal. Saki Maeta (26), mahasiswa Doktoral Antropologi Budaya dari Kobe University, Jepang, ikut hadir untuk riset.

Di tengah prosesi adat, Saki tampak antusias mengamati setiap detail ritual. “Saya rasa sudah… cukup, cukup dilestarikan,” ujarnya dengan bahasa Indonesia fasih.

Bagi Saki, kunci langgengnya tradisi purbakala ada di tangan generasi kini. “Mungkin tinggalnya apa… banyak masyarakat belajar sejarah atau ceritanya, dan melestarikan,” tambahnya. Menurut dia, situs sejarah akan lebih hidup jika masyarakat aktif menggali nilai historis dan kisah luhur di baliknya.

Gotong Royong Terbuka untuk Umum di Tahun Baru Jawa 1960 
Yang menarik, jamasan ini tidak eksklusif. Pengunjung umum, wisatawan, hingga peneliti asing seperti Saki diajak terlibat langsung membersihkan relief sejarah Kediri.

“Semuanya bisa terlibat. Bahkan masyarakat atau pengunjung yang sedang menonton pun kami perbolehkan ikut bahu-membahu membersihkan cagar budaya ini,” ungkap Eko hangat.

Lebih dari sekadar membersihkan batu purbakala, jamasan di bulan Suro menjadi ruang refleksi spiritual. Ini momen transisi budaya untuk bersyukur sekaligus memanjatkan doa terbaik.

“Momentum bulan Suro ini sekaligus menjadi wujud rasa syukur kita menyambut Tahun Jawa 1960 Be. Kami memohon keselamatan, mudah-mudahan di tahun yang baru ini kita semua diberi kelancaran dan keselamatan dalam setiap langkah,” pungkas Eko.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *