Dari Lahan Biasa Jadi Cuan, Dimas Sulap Pertanian di Pare dengan Hidroponik

Belajar Otodidak, Panen Selada hingga 100 Kilogram per Pekan dan Kini Merambah Pasar SPPG

Kediri, Montera.co.id – Berawal dari lahan pertanian biasa, Adimas Ketut Nalendra (36) perlahan mengubah cara bercocok tanamnya. Dari sekadar mengolah lahan, pria yang akrab disapa Dimas itu kini menjadikan pertanian hidroponik sebagai peluang usaha.

Di lahan hidroponiknya yang berada di Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Dimas menekuni budidaya berbagai tanaman, terutama selada keriting. Dari tempat inilah ia mencoba membangun usaha pertanian yang produksinya lebih terukur sekaligus mampu membuka lapangan pekerjaan.

Belajar Hidroponik Secara Otodidak
Menariknya, Dimas bukan lulusan pertanian. Pengetahuannya mengenai hidroponik diperoleh secara otodidak. Ia belajar dari berbagai sumber dan berdiskusi dengan komunitas penghobi hidroponik.

Sebelum beralih ke hidroponik, lahan yang dikelolanya sempat digunakan untuk menanam berbagai komoditas. Mulai dari jagung, kacang tanah, sawi hingga tanaman lainnya.

Salah satu lahan miliknya memiliki luas sekitar 10 x 20 meter. Awalnya, area tersebut digunakan untuk budidaya melon.

Namun, hasil dari pola pertanian konvensional yang dijalankan saat itu belum cukup untuk menopang biaya operasional, termasuk tenaga kerja.

“Hasilnya masih belum bisa untuk menghidupi pegawainya,” kata Dimas saat ditemui Jumat (18/9/2026).

Kondisi tersebut membuatnya mulai memikirkan cara lain. Ia kemudian mencoba membagi produksi antara tanaman buah dan sayuran, dengan sebagian lahan dialihkan menjadi area hidroponik.

Target Panen 100 Kilogram Setiap Pekan
Bagi Dimas, hidroponik bukan hanya soal mengganti media tanam. Sistem tersebut juga memberinya kesempatan untuk membuat pola produksi yang lebih terencana.

Untuk sayuran, ia menargetkan produksi sekitar 100 kilogram setiap pekan dari lahan di Tegalsari. Sementara tanaman buah seperti melon memiliki siklus produksi yang lebih panjang, dengan target panen sekitar satu bulan sekali.

Menurut pengalaman yang dijalaninya, produktivitas menjadi salah satu alasan ia bertahan dengan hidroponik.

Dengan luasan lahan yang sama, hasil produksi hidroponik menurutnya dapat mencapai lima hingga enam kali lipat dibandingkan pola tanam konvensional.

“Kalau di lahan biasa dengan hidroponik itu hasilnya bisa lima sampai enam kali lipat dari yang biasanya,” ujar pria yang kini bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pendidikan wilayah Blitar tersebut.

Modal Awal Besar, tetapi Produksi Lebih Terukur
Dimas mengakui, membangun pertanian hidroponik membutuhkan modal yang tidak sedikit. Investasi awal diperlukan untuk membuat instalasi sekaligus menyiapkan berbagai kebutuhan produksi.

Namun, setelah berjalan, ia mulai merasakan manfaat dari perubahan sistem tersebut. Produksi dapat direncanakan dan jadwal panen bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Ada pula nilai tambah dari sisi produk. Sayuran hidroponik yang dihasilkan menurut Dimas lebih mudah dijaga kebersihannya.

Selada yang sudah dipanen dapat bertahan sekitar satu minggu jika disimpan di dalam pendingin. Sedangkan pada suhu ruang, daya simpannya sekitar tiga hingga empat hari.

“Kalau kita bisa tahan sayur biasanya sampai satu minggu kalau di dalam cooler. Kalau tidak di dalam cooler atau di suhu ruang biasanya sampai tiga sampai empat hari,” jelas pria asal Desa Badas tersebut.

Dari Kebab hingga Pasokan SPPG
Pasar pertama yang dibidik Dimas berasal dari pelaku usaha kuliner. Penjual kebab, gado-gado dan usaha makanan lainnya menjadi pelanggan yang membutuhkan sayuran dalam kondisi bersih dan segar.

Seiring waktu, pasar tersebut berkembang. Permintaan mulai datang dari SPPG yang membutuhkan pasokan sayuran dalam jumlah lebih besar.

Perbedaannya cukup terasa. Jika sebelumnya permintaan dari pelaku usaha kuliner berada di kisaran 50 kilogram per minggu, permintaan dari SPPG bisa mencapai sekitar 200 kilogram per minggu.

Peningkatan permintaan itu membuat Dimas harus menyesuaikan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar.

Pernah Tembus Rp30 Juta Sebulan
Dari sisi pendapatan, hasil usaha hidroponik tidak selalu sama setiap bulan. Semuanya bergantung pada harga dan kondisi pasar.

Saat harga sayuran sedang turun, dua petak lahan yang dikelolanya dapat menghasilkan sekitar Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulan setelah dikurangi sejumlah biaya, di luar tenaga kerja.

Namun, ketika permintaan meningkat dan kondisi produksi mendukung, hasilnya bisa jauh lebih besar.

Setelah Lebaran, misalnya, Dimas pernah mencatat produksi hingga sekitar 500 kilogram sayuran dalam satu pekan. Dalam kondisi tersebut, pendapatan bulanan usaha hidroponiknya pernah mencapai sekitar Rp30 juta dengan jumlah tenaga kerja yang sama.

Meski begitu, Dimas tidak memilih ikut perang harga ketika harga sayuran di pasar konvensional turun.

Ia justru memilih mengurangi produksi dan mempertahankan pelanggan yang selama ini sudah menjadi konsumen tetap.

“Kalau kita mau perang harga, kita akhirnya yang kalah. Kita hanya mencari konsumen-konsumen yang loyal,” tuturnya.

Menjual Kualitas, Bukan Sekadar Harga
Menurut Dimas, produk hidroponik memang tidak selalu bisa bersaing jika hanya mengandalkan harga.

Petani konvensional memiliki lahan yang lebih luas. Pada musim tertentu, produksi yang melimpah membuat harga sayuran bisa menjadi lebih rendah.
Karena itu, Dimas memilih menawarkan nilai lain kepada konsumen. Kebersihan, kesegaran dan kualitas produk menjadi keunggulan yang dipertahankan.

Strategi tersebut menjadi cara Dimas menjaga pasar ketika harga sayuran mengalami fluktuasi.

Tenaga Kerja dan Cuaca Jadi Tantangan
Menjalankan usaha hidroponik ternyata juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kebutuhan tenaga kerja yang harus tersedia hampir setiap hari.

Berbeda dengan pertanian konvensional yang aktivitasnya dapat dilakukan dengan jeda beberapa hari, hidroponik membutuhkan pemantauan dan perawatan secara rutin.

Selain tenaga kerja, cuaca juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Perubahan pola hujan yang semakin tidak menentu dapat memengaruhi kondisi tanaman dan memicu munculnya gangguan hama.

“Walaupun serangan hama dulu sudah minim, cuaca juga memengaruhi. Sekarang hujan sudah tidak terjadwal seperti dulu, itu juga memicu kembalinya hama,” katanya.

Dari Petani Otodidak hingga Membangun Pasar Sendiri
Bagi Dimas, mengembangkan hidroponik bukan sekadar mengganti metode bercocok tanam. Ia harus belajar mengelola usaha secara keseluruhan.
Mulai dari mengatur tenaga kerja, menghitung efisiensi pupuk, menjaga kesinambungan produksi hingga membaca kebutuhan pasar.

Apalagi, pelaku usaha hidroponik tidak mendapatkan pupuk bersubsidi seperti yang tersedia bagi sebagian petani konvensional. Harga pupuk hidroponik juga dapat berubah sehingga efisiensi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Perjalanan itu membuat Dimas memahami bahwa pertanian membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menanam. Ada proses belajar, menghitung risiko dan membangun pasar.
Kini, beberapa titik lahan hidroponik miliknya diisi tanaman sayur, terutama selada, serta melon.

Ke depan, Dimas berencana terus mengembangkan usahanya dengan mencoba varietas tanaman lain dan membuka opsi untuk menambah lahan.

Dari lahan pertanian biasa di Pare, ia perlahan membangun model usaha sendiri. Berbekal belajar secara otodidak, Dimas membuktikan bahwa bertani juga bisa dijalankan dengan pendekatan bisnis—selama mau terus belajar, membaca pasar dan berani mencoba cara baru.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *