Kediri,Montera.co.id– Debu tipis membubung diiringi derak roda kayu yang berputar berirama. Di atasnya, puluhan sapi gagah dengan otot kekar melangkah mantap menyusuri jalanan Kabupaten Kediri. Bukan sekadar pawai biasa, deretan kendaraan tradisional tersebut menjadi sajian utama Parade Cikar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
Memasuki tahun kelima pelaksanaannya, tradisi ini terbukti makin menyedot perhatian warga. Sebanyak 43 cikar memadati rute sepanjang 5,5 kilometer, bergerak anggun dari depan Taman Totok Kerot, mengitari kawasan ikonik Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), hingga berakhir di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri.
Lebih dari Sekadar Pawai Budaya
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M. Solikin, yang melepas rombongan mewakili Bupati Hanindhito Himawan Pramana, menegaskan bahwa parade ini menyimpan misi lebih mendalam dibanding sekadar tontonan peringatan kemerdekaan.
”Ini bukan sekadar melestarikan budaya, tetapi juga merawat memori publik kita tentang transportasi tradisional,” tutur Solikin di sela pemberangkatan.
Solikin juga menggarisbawahi sisi ekonomi di balik tradisi ini. Kehadiran sapi-sapi berkualitas dalam parade tersebut menjadi gambaran nyata potensi peternakan lokal yang menjadi simbol kemakmuran warga Kediri.
Pemeriksaan Ketat dan Antusiasme Peternak
Di balik kemeriahan tersebut, ada persiapan ketat dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri. Plt Kepala DKPP, Tutik Purwaningsih, mengungkapkan bahwa dari 46 pendaftar, hanya 43 cikar yang lolos verifikasi kesehatan.
”Sapi-sapi ini wajib bebas dari penyakit menular karena bergerak di ruang publik. Sapi yang tampil mayoritas jenis Peranakan Ongole (PO) dan Brahman yang terlatih—bukan tipe ekstrem—sehingga punya daya tahan fisik ideal untuk rute parade,” jelas Tutik.
Melibatkan sekitar 86 ekor sapi dari 10 kecamatan, parade tahun ini tampil makin meriah berkat aksi edukasi masyarakat. Sebanyak 50 siswa SDN 1 Wonosari Pagu diajak naik cikar sembari dikenalkan pentingnya gizi dari telur, daging, dan susu. Tak hanya itu, sekitar 2.000 butir telur rebus turut dibagikan gratis kepada warga yang memadati sepanjang rute.
Kisah Sang Juara: Merawat Cikar demi Warisan Leluhur
Keseruan parade diwarnai kompetisi ketat dalam tiga kategori: performa sapi, kreativitas cikar, serta penggunaan muatan lokal berupa produk pertanian Kediri. Kebahagiaan mendalam dirasakan oleh Yudiono, peserta asal Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar, yang berhasil menyabet juara pertama.
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kunjang ini mengaku tak butuh waktu lama untuk bersolek. Kunci utamanya terletak pada perawatan rutin pakan comboran, hijauan segar, serta pemberian vitamin.
”Alhamdulillah, senang sekali bisa juara lagi. Kuncinya ada pada kesehatan sapi dan cikar yang rutin dirawat serta dicat ulang agar tampil apik,” ujar Yudiono tersenyum.
Bagi Yudiono dan komunitas peternak Kediri, parade ini adalah panggung kebanggaan. Ia berharap agenda tahunan ini terus mendapat dukungan penuh Pemkab Kediri agar peninggalan leluhur tersebut tak tergerus zaman dan tetap dikenal oleh generasi muda.(Dan/Ali)







