Peternak Asal Kediri Kehilangan Ratusan Koloni Lebah di Pati, Diduga Sengaja Diracun

Kediri,Montera.co.id— Duka mendalam menyelimuti Nurhadi (54), peternak lebah madu asal Kampung Madu, Dusun Purworejo, Desa Bringin, Kecamatan Badas, Kediri. Harapannya memanen madu dari bunga randu di Pati, Jawa Tengah, pupus seketika. Sebanyak 196 kotak koloni lebah miliknya ditemukan mati mendadak pada akhir Juni 2026, diduga kuat akibat diracun orang tak dikenal.

Akibat kejadian pilu ini, Nurhadi harus menanggung kerugian hingga Rp200 juta. Seluruh sumber penghasilannya musnah hanya dalam hitungan jam.

Kronologi: Mati Massal Sehari Setelah Dipindah
Tragedi ini bermula saat Nurhadi diminta warga setempat untuk memindahkan koloninya dari lokasi sebelumnya di Pati. Ia pun mencari lahan baru di kawasan kebun randu yang masih satu wilayah, mengingat musim bunga randu sedang berlangsung.

Namun baru sehari dipindah, firasat buruk mulai muncul. “Keponakan saya lihat ada delapan kotak yang lebahnya seperti kena racun. Besoknya dicek lagi sekitar pukul 11.00 WIB, ternyata semuanya sudah mati,” tutur Nurhadi saat ditemui di kediamannya, Jumat (10/7/2026) pukul 15.00 WIB.

Bukan Pestisida Biasa, Diduga Ada Unsur Kesengajaan
Selama lebih dari 20 tahun beternak lebah keliling, Nurhadi hafal betul bedanya lebah mati karena pestisida pertanian dan karena diracun. Kali ini, ia yakin ada unsur kesengajaan.

“Kalau kena pestisida pertanian biasanya tidak sampai habis semua. Masih ada yang hidup. Ini semua mati, termasuk yang ada di sarang,” tegasnya.

Kecurigaan itu makin kuat setelah ia menemukan bercak-bercak putih di bingkai kayu sarang dan sedikit endapan di dasar kotak. Anehnya, tak ada bau menyengat sama sekali. “Di kayunya ada bercak putih, di bawah kotak juga ada sedikit. Tapi tidak ada bau apa-apa, jadi saya tidak tahu racunnya apa,” ucapnya.

Syok Berat, Sempat Tak Bisa Berpikir Jernih
Melihat seluruh koloni yang jadi tumpuan hidupnya mati sekaligus, Nurhadi terpukul hebat. “Saya benar-benar panik. Badan sampai drop. Baru setelah beberapa hari saya bisa mengambil keputusan untuk menyelamatkan sisa lebah yang masih mungkin hidup,” kenangnya.

Ia langsung memindahkan sisa koloni yang selamat ke rumah dan membersihkan kotak-kotak lebah dengan deterjen agar steril kembali.

Laporan Polisi Dicabut Demi Selamatkan Lebah yang Tersisa
Sebenarnya, rekan Nurhadi di Jawa Tengah sudah melaporkan dugaan peracunan ini ke polisi. Garis polisi bahkan sudah terpasang di lokasi. Namun, Nurhadi memilih mencabut laporan tersebut.

Alasannya sederhana: ia ingin fokus menyelamatkan koloni yang masih hidup. “Karena masih ada yang hidup dan saya selamatkan saja,” paparnya.

26 Tahun Keliling Nusantara, Baru Kali Ini Alami Tragedi Terburuk
Bagi Nurhadi, kejadian ini adalah yang terburuk sepanjang 26 tahun karirnya sebagai peternak lebah keliling. Ia biasa menggembalakan lebah mengikuti musim bunga penghasil nektar, dari Pasuruan, Pati, Jepara, Probolinggo, Banyuwangi, hingga Ngawi.

Usai musim randu, ia biasa pindah ke kawasan Kaliandra di lereng Gunung Wilis, lalu mengikuti musim bunga mangga, karet, rambutan, hingga akasia.

Edukasi Masyarakat Masih Minim, Lebah Sering Dianggap Hama
Nurhadi menyebut, selain cuaca, tantangan terbesar peternak lebah adalah minimnya pemahaman masyarakat. Ia mengaku sering diminta memindahkan kotak lebah karena dianggap mengganggu atau merusak panen buah.

Padahal, lebah justru membantu penyerbukan dan meningkatkan produktivitas tanaman. “Masih banyak yang belum paham. Padahal lebah itu membantu penyerbukan tanaman, bukan merugikan. Selama ini kami juga selalu survei lokasi dan menghindari area yang dekat dengan penyemprotan pestisida agar koloni tetap aman,” pungkasnya.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *