Kediri,Montera.co.id– Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang dulu akrab disebut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk tingkat SMP dan sederajat di Kota Kediri telah resmi berakhir. Namun, di balik rampungnya proses administrasi tersebut, menyisakan sebuah polemik yang cukup menyita perhatian publik.
Dewan Pengawas Saroja, Supriyo, angkat bicara mengenai dinamika yang berkembang belakangan ini. Saroja sendiri merupakan lembaga swadaya masyarakat yang menaruh perhatian besar pada transparansi dan keadilan sosial di Kota Kediri. Supriyo mengakui bahwa aduan dan laporan dari masyarakat baru masuk ke mejanya setelah seluruh proses ketetapan siswa baru selesai dilakukan.
”Saya katakan sekali lagi, proses SPMB di Kota Kediri sudah selesai. Dan saya, Saroja, datang terlambat karena aduan baru masuk setelah semua proses itu selesai dan nama-nama siswa yang diterima sudah ditetapkan,” ujar Supriyo dengan nada reflektif.
Mengedepankan Efek Psikologis Anak
Supriyo memahami ada gejolak di masyarakat, terutama dari mereka yang merasa diperlakukan tidak adil dalam proses seleksi tersebut. Ada desakan kuat dari berbagai pihak agar hasil SPMB yang dulu PPDB dibongkar kembali demi transparansi. Namun, Supriyo mengajak masyarakat untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas dan humanis, khususnya dampak psikologis terhadap anak-anak.
Menurutnya, siswa-siswa yang telah dinyatakan lolos di sekolah impian mereka pasti sudah merayakannya bersama keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Nama mereka sudah telanjur viral sebagai siswa baru di SMP favorit.
”Bagaimana aspek moral dan psikologis mereka jika tiba-tiba hari ini nama mereka dicoret karena peristiwa hukum yang kita angkat? Apakah anak-anak itu masih mau bersekolah lagi? Apakah mereka masih punya mental untuk melanjutkan pendidikan?” tanya Supriyo
Persoalan ini juga sempat ia diskusikan langsung saat bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri. Supriyo menekankan bahwa melakukan evaluasi total atau recycle ulang di tengah jalan akan mengorbankan perasaan anak-anak yang tidak tahu apa-apa.
Belajar dari Filosofi Rocky Gerung
Menanggapi berbagai spekulasi dan tudingan yang diarahkan kepada dirinya maupun keluarganya, Supriyo menanggapi dengan santai. Ia bahkan terbuka jika ada pihak yang ingin memeriksa rekam jejak pendidikan anak-anaknya. Supriyo menceritakan bahwa anak-anaknya menempuh pendidikan di sekolah yang beragam, mulai dari PGRI, Sekolah Negeri, hingga Aliyah Bahrul Ulum.
”Saya punya tiga anak, dan saya tidak pernah memaksakan mereka harus sekolah di tempat tertentu. Saya sepandangan dengan Rocky Gerung; sekolah atau ijazah itu hanya bukti bahwa kita pernah belajar atau bersekolah, tapi bukan bukti bahwa kita pernah berpikir,” selorohnya sembari tersenyum.
Bagi Supriyo, memaksakan anak masuk ke sekolah favorit dengan memanfaatkan uang, kekuasaan, atau jaringan bukanlah jaminan masa depan yang cerah. Ia percaya setiap anak yang dilahirkan ke dunia sudah memiliki garis tangan dan masa depannya masing-masing yang telah tercatat dengan baik.
Komitmen Evaluasi Sistem di Tahun Depan
Meski memilih untuk meredam polemik demi menjaga mentalitas anak-anak pada tahun ini, Supriyo menegaskan bahwa ini adalah kelonggaran terakhir. Ia mendesak agar sistem PPDB sekarang SPMB dan para penyelenggaranya dievaluasi secara total agar kecurangan tidak terulang kembali di masa mendatang.
”Sudahlah, mari kita akhiri polemik tahun ini. Kecuali, kita harus berjanji bahwa tahun depan sistem harus berubah, termasuk para penyelenggara harus dievaluasi semua. Jika saya masih diberikan umur dan kesehatan, saya pastikan akan mendampingi dan mengawal ketat proses SPMB tahun depan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan tidak akan segan-segan menempuh jalur hukum atau melakukan gugatan ke pengadilan jika di masa mendatang masih ada pihak-pihak yang menggunakan uang dan kekuasaan untuk merampas hak orang lain. Bagi Supriyo, risiko menghadapi ancaman ataupun hujatan sudah menjadi bagian dari hidupnya yang sebagian besar dihabiskan untuk melawan ketidakbenaran dan korupsi.
Di akhir penjelasannya, Supriyo menyampaikan terima kasih atas segala kritik, dukungan, maupun hujatan yang ia terima dari masyarakat. Ia berharap masyarakat Kota Kediri tetap tenang dan saling menjaga demi kebaikan bersama.
”Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan menjaga kita semua agar terus bisa memberikan manfaat bagi sesama. Salam waras buat warga Kediri,” pungkasnya.(Dan/Ali)







