Kediri,Montera.co.id– Gelombang protes halus terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Kediri, Rabu (10/6/2026). Sejak pagi, antrean di pompa bensin bersubsidi, Pertalite, tampak membludak. Sebaliknya, jalur pengisian untuk BBM nonsubsidi jenis Pertamax terlihat sepi dan lengang.
Perubahan drastis pola konsumsi ini dipicu oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku mulai hari ini. Harga Pertamax RON 92 melonjak dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green RON 95 juga ikut naik signifikan dari Rp 12.900 menjadi Rp 19.000 per liter.
Lonjakan harga yang mencapai ribuan rupiah dalam semalam ini sontak membuat kantong masyarakat terkuras. Bagi banyak warga, pilihan beralih ke bahan bakar subsidi bukan lagi soal preferensi, melainkan keharusan demi menghemat pengeluaran harian.
Dilema Pekerja Harian: Performa Mesin vs Isi Dompet
Azis Fanani (35), warga Kecamatan Badas, adalah salah satu korban dampak kenaikan tersebut. Setiap hari, Azis harus menempuh perjalanan jauh dari Kediri menuju Tulungagung untuk bekerja. Selama ini, ia setia menggunakan Pertamax karena percaya pada kualitasnya. Namun, realitas ekonomi memaksanya mengambil keputusan sulit.
“Sebelumnya pakai Pertamax. Karena sekarang mahal, ya beralih ke Pertalite,” ucap Azis sambil menunggu giliran mengisi tangki motornya di SPBU Desa Pelem, Pare.
Bagi Azis, kenaikan dari kisaran Rp 12.000-an langsung tembus ke Rp 16.000-an terasa terlalu “kaget”. Ia menilai langkah ini kurang mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan pasca berbagai krisis sebelumnya.
“Saya tahu informasinya semalam. Terus terang tidak setuju karena memberatkan. Semua kebutuhan sekarang naik, ditambah BBM naik tinggi seperti ini,” keluhnya dengan nada pasrah.
Azis berharap pemerintah lebih bijak dalam menentukan kebijakan harga. Menurutnya, kenaikan bertahap masih bisa diterima, namun lonjakan drastis seperti ini jelas memberatkan rakyat kecil. “Harapannya jangan terlalu tinggi kenaikannya. Harus seimbang dengan pendapatan warga supaya tidak memberatkan,” tambahnya.
Nasib Driver Ojol: Terpaksa “Turun Kelas” Sementara
Senada dengan Azis, Totok, seorang pengemudi ojek online, juga merasakan imbas berat dari kebijakan baru ini. Bagi driver ojol, kendaraan adalah alat produksi utama. Selama ini, Totok memilih Pertamax karena dinilai lebih ramah mesin dan menjaga performa motor tetap prima di tengah padatnya lalu lintas.
Namun, dengan harga baru Rp 16.250 per liter, hitungan ekonominya menjadi tidak masuk akal jika tetap bertahan di BBM nonsubsidi.
“Biasanya pakai Pertamax karena motor lebih enak. Tapi sekarang ya berat. Terpaksa pindah ke Pertalite dulu,” aku Totok.
Meski telah beralih, Totok menyimpan harapan agar suatu saat nanti ia bisa kembali menggunakan Pertamax. Ia meminta agar selisih harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi tidak terlalu lebar, sehingga masyarakat kelas menengah ke bawah masih memiliki opsi untuk memilih bahan bakar berkualitas tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok lainnya.
Respons SPBU: Layanan Tetap Lancar Meski Konsumen Kaget
Di sisi lain, pihak pengelola SPBU mencatat adanya kebingungan di kalangan konsumen pada hari pertama pemberlakuan tarif baru. Yulianto, Wakil Kepala Mandor SPBU Pelem, mengakui bahwa banyak pelanggan yang terkejut melihat angka baru di papan harga.
“Memang banyak yang kaget karena harganya naik cukup tinggi. Tetapi sejauh ini tidak ada masalah, pelayanan tetap berjalan lancar seperti biasa,” ujar Yulianto.
Yulianto menjelaskan bahwa informasi resmi mengenai kenaikan harga baru diterima oleh pihak SPBU pada Selasa (9/6/2026) malam. Akibatnya, penyesuaian harga di dispenser dan papan informasi dilakukan secara mendadak menjelang pembukaan operasional hari ini.
“Hingga saat ini dampak kenaikan harga belum terlihat signifikan secara data penjualan karena mungkin masih banyak konsumen yang belum mengetahui. Jadi penjualannya juga belum bisa dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya,” jelasnya.
Untuk meminimalisir kejutan bagi konsumen, pihak SPBU telah menginstruksikan seluruh operator untuk secara proaktif memberitahukan harga terbaru sebelum proses pengisian bahan bakar dimulai. Langkah ini diambil untuk menjaga transparansi dan menghindari kesalahpahaman di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di SPBU-SPBU wilayah Kabupaten Kediri terpantau kondusif. Meski keluhan tersirat dari wajah-wajah lelah para pengendara, kehidupan tetap harus berlanjut. Bagi warga Kediri, hari ini adalah awal dari adaptasi baru terhadap tingginya biaya hidup yang kian menekan.(Dan/Ali)







