Di Balik Wacana 1.000 Bioskop Desa: Tantangan Peningkatan SDM dan Kualitas Film Daerah

Kediri, Montera.co.id– Respons positif datang dari komunitas perfilman daerah terkait wacana pembangunan 1.000 bioskop di tingkat desa yang diusulkan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Kediri, Ellya Destiara Permata, menilai langkah tersebut sebagai angin segar bagi ekosistem sinema nasional, khususnya bagi para sineas yang berproses di luar pusat industri Jakarta.

 

Bagi Ellya, keberadaan infrastruktur penayangan film hingga ke level desa bukan sekadar fasilitas hiburan, melainkan ruang vital bagi kreasi seniman lokal untuk bertemu dengan audiensnya.

 

 

Harapan Baru bagi Sineas Daerah

 

Ellya menyoroti potensi besar yang tersimpan di kalangan pembuat film daerah. Menurutnya, banyak sineas berbakat di Kediri dan wilayah sekitarnya yang selama ini terkendala oleh minimnya akses distribusi karya mereka.

 

“Seperti di Kediri ini, sebenarnya banyak sineas-sineas yang berpotensi dan membutuhkan ruang untuk mempertemukan karya terbaik mereka kepada penonton,” ujar Ellya dalam keterangannya, belum lama ini.

 

Ia menekankan bahwa usulan pembangunan bioskop desa dapat menjadi katalisator bagi lahirnya gelombang baru sineas daerah. Dengan adanya layar tancap modern atau bioskop skala kecil di desa-desa, film-film independen dan berbasis kearifan lokal memiliki peluang lebih besar untuk dinikmati masyarakat luas, bukan hanya terbatas di festival atau platform digital semata.

 

 

Tantangan Peningkatan SDM Perfilman

 

Meski menyambut baik rencana tersebut, Ellya juga mengingatkan bahwa infrastruktur fisik harus diimbangi dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Ia melihat hal ini sebagai tantangan konstruktif bagi para pelaku industri film di daerah.

 

“Ini juga sebuah tantangan baru untuk para sineas di daerah agar terus mengembangkan potensi yang dimiliki untuk menciptakan karya yang lebih baik dan lebih variatif,” tuturnya.

 

Ellya berharap, dengan adanya jaminan tempat pemutaran, motivasi sineas lokal untuk meningkatkan kualitas produksi—mulai dari naskah, sinematografi, hingga penyuntingan—akan semakin tinggi. Kompetisi sehat antar-kreator daerah diharapkan dapat melahirkan karya-karya berkualitas yang mampu bersaing di kancah nasional.

 

 

Dampak Ekonomi Ganda bagi Masyarakat

 

Lebih jauh, Ellya menjelaskan bahwa berkembangnya industri perfilman di daerah akan membawa dampak ekonomi yang signifikan. Pembangunan bioskop desa diprediksi tidak hanya meningkatkan pendapatan para sineas melalui royalti atau penjualan tiket, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar.

 

Keberadaan bioskop dapat menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari tenaga operasional, keamanan, hingga usaha kuliner dan pedagang kaki lima di sekitar lokasi bioskop. Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi kreatif yang mampu memberdayakan masyarakat lokal secara berkelanjutan.

 

Dengan sinergi antara dukungan infrastruktur dari pemerintah dan peningkatan kapasitas SDM dari para sineas, harapan untuk democratization of cinema (demokratisasi sinema) di Indonesia semakin terbuka lebar. PARFI Kediri siap mendukung penuh inisiatif ini demi kemajuan perfilman nasional yang lebih inklusif dan merata.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *