Nasib Ratusan Penambang Pasir Manual di Kediri di Tengah Isu Alat Mekanik

Kediri,Montera.co.id– Ketua Paguyuban Penambang Pasir Tradisional Semampir-Mojoroto, Marlan (53), menegaskan bahwa seluruh aktivitas pengambilan pasir di wilayahnya murni menggunakan metode manual dan tanpa bantuan mesin penyedot (mekanik). Penegasan ini disampaikan untuk menepis isu adanya penggunaan alat mekanik yang dituding dapat merusak lingkungan serta menggerus fondasi jembatan di aliran Sungai Brantas.

Klarifikasi Terkait Isu Kerusakan Lingkungan

Marlan menjelaskan bahwa di sepanjang wilayah Semampir hingga Mojoroto terdapat 8 titik penambangan yang semuanya diawasi ketat agar tetap menggunakan alat tradisional. Ia meminta agar pihak media maupun oknum tertentu tidak salah paham dalam memberikan informasi kepada publik.

“Di sini saya selaku ketua penambang manual sudah mengarahkan semuanya. Tidak ada kerusakan lingkungan atau aktivitas yang mengurus tiang jembatan. Kalau ada penambang pasir mekanik di sini, semuanya pasti akan memberontak,” tegas Marlan saat ditemui di lokasi, Selasa (12/5).

Gunakan Sistem Selam dan Alat Tradisional

Cara kerja para penambang di wilayah ini masih sangat tradisional dengan mengandalkan kekuatan fisik. Mereka menggunakan sistem selam untuk mengambil pasir dari dasar sungai. Alat-alat yang digunakan pun terbatas pada:

Songkro (alat pengangkut).

Paco dan Donak.

Perahu Tradisional: Jika terdapat mesin di perahu, fungsinya hanya sebagai penggerak transportasi ke tengah atau ke pinggir sungai, bukan untuk menyedot pasir.

Marlan bahkan mengajak pihak-pihak yang ragu untuk melihat langsung proses penambangan ke tengah sungai. “Bapak-bapak bisa melihat langsung prosesnya di tengah, bagaimana pengambilan manual itu dilakukan,” tambahnya.

Menyangkut Hajat Hidup Ratusan Orang

Selain menjaga ekosistem, aktivitas ini merupakan tumpuan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Tercatat ada sekitar 300 hingga 400 tenaga kerja lokal yang menggantungkan hidup dari 8 titik penambangan tersebut.

Dalam sehari, para penambang bisa membawa pulang upah sekitar Rp60.000 hingga Rp80.000. Namun, penghasilan ini sangat bergantung pada cuaca. Jika hujan deras, mereka memilih untuk berhenti beroperasi karena risiko keselamatan yang tinggi di sungai.

Warisan Generasi ke-Lima

Profesi penambang pasir manual di Kelurahan Semampir ini diakui Marlan sebagai warisan turun-temurun. Ia sendiri telah melakoni pekerjaan ini selama 30 tahun dan mengklaim aktivitas ini sudah memasuki generasi kelima.

“Kami justru membantu lingkungan. Jika ada sampah-sampah di aliran sungai, para penambang manual inilah yang meminggirkannya agar bersih. Jadi kami mohon jangan sampai ada salah paham yang justru membenturkan kami dengan Aparat Penegak Hukum (APH),” pungkasnya.( Dan /Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *