Kisah Tsany: Atlet Kriket Peraih Medali Ini Diterima di UM Malang, tapi Terbebani Biaya Kuliah  

Kediri,montera.co.id– Wangi semerbak bunga mawar menyambut siang hari di Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Di halaman rumah yang dipenuhi pot bunga warna-warni, tersimpan kisah perjuangan luar biasa dari seorang gadis tangguh bernama Tsany Zahratussita.

Di tengah deretan tanaman yang ia rawat bersama ibunya, Tsany membagi waktunya antara mengejar pendidikan, berlatih sebagai atlet kriket, hingga menopang ekonomi keluarga yang sedang dilanda musibah.

Merawat Ibu Sakit Tumor dan Usaha Bunga Sejak Ayah Wafat

Kehidupan Tsany tidaklah mudah. Sejak ayahnya meninggal dunia, beban hidup semakin berat ditambah kondisi ibunya, Maftukhatul Khoiriyah (48), yang harus berjuang melawan penyakit tumor otak sejak empat tahun lalu.

“Saya membantu ibu jualan bunga sekaligus merawat tanaman. Ini untuk tambahan biaya sehari-hari,” ujar gadis berusia 18 tahun ini, Kamis (23/4/2026).

Mereka membudidayakan berbagai jenis mawar, mulai dari jenis Kalimantan tanpa duri, mawar Malang, hingga jenis lokal yang dijual dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 40.000 per tanaman.

Tak hanya berjualan, Tsany juga mengurus seluruh kebutuhan rumah tangga, memasak, hingga merawat ibunya. Belum lagi kakaknya yang baru saja mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi rahang. Meski berat, semangat gadis ini tak pernah padam.

Sabet Medali Porprov hingga Nasional, Lolos Kuliah Lewat Jalur Prestasi

Di balik keterbatasan itu, Tsany menyimpan segudang prestasi. Ia merupakan atlet kriket yang baru aktif sejak awal tahun 2025, namun berhasil menorehkan hasil gemilang.

Tsany berhasil meraih medali perunggu di ajang Porprov Jatim 2025 dan medali perak di kejuaraan nasional yang digelar di Bali.

“Alhamdulillah di kejuaraan nasional saya mendapat medali perak, itu jadi momen paling berkesan,” kenangnya.

Prestasi membanggakan itu menjadi tiket emas baginya. Tsany resmi diterima di Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Malang (UM) melalui jalur prestasi untuk tahun ajaran 2026/2027.

UKT Rp 4,7 Juta Jadi Tantangan, Berharap Ada Bantuan Beasiswa

Kabar bahagia itu tentu saja menjadi kebanggaan besar bagi keluarga. Namun, di baliknya terselip kegelisahan tersendiri terkait biaya pendidikan.

Besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang ditetapkan mencapai Rp 4.750.000 per semester. Meski kampus telah memberikan keringanan berupa pembebasan biaya untuk dua semester awal, Tsany masih bingung memikirkan biaya untuk semester-semester berikutnya.

“Waktu tahu UKT cukup tinggi, saya sempat bingung dan sedih, terutama untuk semester berikutnya. Saya ingin tetap kuliah, tapi juga harus bantu keluarga,” tuturnya.

Untuk menutupi kebutuhan, selain berjualan tanaman, Tsany juga menyempatkan waktu meronce dan merangkai bunga. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah atau donatur untuk membantu meringankan beban biaya kuliahnya.

Cita-Cita Jadi Atlet Profesional, Motivasi Terbesar demi Ibu

Tsany bertekad keras untuk terus berjuang. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib keluarga. Ia juga berencana tetap melanjutkan karier sebagai atlet kriket di Malang.

“Motivasi terbesar saya adalah ibu. Saya ingin membahagiakan beliau dan mengangkat kondisi keluarga,” ucapnya tegas.

Di sisi lain, sang ibu, Maftukhatul Khoiriyah, berharap kondisinya yang sakit tidak menjadi penghalang bagi anak-anaknya untuk terus menuntut ilmu dan meraih mimpi.

“Saya berharap anak-anak bisa terus sekolah dan sukses, meski kondisi saya seperti ini,” harapnya.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *