Bikin Merinding! 59 Kontingen MI Sulap Jalan Protokol Kediri Jadi La Strada Budaya

Kediri,Montera.co.id- Bukan sekadar dentuman. Pagi itu, jantung Kabupaten Kediri berdegup dalam irama.

Dari Kantor Pemerintah Kabupaten hingga depan Dinas Perhubungan, jalan protokol berubah menjadi panggung budaya raksasa. Dentuman drum bass yang menghentak bersahutan dengan lengkingan terompet dan suling. Di tepi jalan, ribuan pasang mata menyemut, terpukau. Inilah Parade Drumband MI se-Kabupaten Kediri – perhelatan perdana yang langsung mencuri hati.

Dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 59 kontingen dari 26 kecamatan tumpah ruah. Bukan hanya pawai, ini adalah parade identitas.

Mengusung tema “Semangat Kemerdekaan, Harmoni Drumband Madrasah, Menuju Kediri Berbudaya”, setiap kontingen menyuguhkan cerita. Kostum warna-warni yang mencolok, atraksi mayoret yang lincah bak penari, dan formasi baris-berbaris yang presisi.

Harmoni yang lahir dari disiplin.
Agenda Perdana yang Jadi Sejarah
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, H. Achmad Fa’iz, S.Ag., M.HI., tak bisa menyembunyikan harunya. Ini adalah sejarah baru bagi madrasah di Kediri.

“Alhamdulillah, kita bersyukur pagi hari ini bisa bersama mengikuti Parade Drumband dengan tema ‘Harmoni Drumband Menuju Kediri Berbudaya’. Ini hal yang luar biasa dan merupakan agenda perdana kita yang dikemas sedemikian rupa,” ujar Achmad Fa’iz.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana (Mas Dhito) dan Panitia Hari Besar Nasional (PHBN) yang telah membuka ruang dan panggung bagi anak-anak madrasah.

“Ini adalah ajang kita untuk terus meneguhkan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia,” tambahnya.

Harapannya satu: jangan berhenti di tahun ini. Jadikan ini tradisi tahunan, warisan budaya yang terus hidup setiap Agustus.

Lebih dari Sekadar Musik: Sekolah Karakter
Di balik kemeriahan visual itu, ada pesan yang jauh lebih dalam. Drumband adalah sekolah kehidupan dalam versi mini.

Setiap pukulan stick, setiap tiupan, mengajarkan arti disiplin, kerja sama tim, dan kepemimpinan. Bahwa keindahan hanya lahir ketika perbedaan peran berjalan dalam satu komando. Cerminan nyata dari Bhinneka Tunggal Ika.

“Kegiatan ini adalah dalam rangka mengapresiasi kreativitas dan inovasi anak-anak didik kita yang ada di madrasah. Mudah-mudahan dengan parade ini, anak-anak semakin bersemangat untuk terus belajar, mengembangkan kreativitas, dan menjadi semangat baru bagi kita semua,” tutur Fa’iz.

Inilah potret modern madrasah Kediri hari ini: tidak hanya menempa ilmu agama dan pengetahuan, tapi juga menjadi kawah candradimuka bagi bakat seni, budaya, dan karakter.

Pekik “Madrasah Hebat, Indonesia Kuat” yang membahana di sepanjang rute menjadi penutup yang sempurna.
Kisah Mahira: Dua Lagu Cinta untuk Ibu
Di antara 59 kontingen itu, ada wajah yang tak asing dengan tepuk tangan.

Mahira Azkia Firdausi Nuzulia (10), siswi kelas 5 MI Raden Fatah Selorejo, Ringinrejo. Riuh penonton bukan lagi hal yang membuatnya canggung. Timnya adalah Juara Umum Lomba Unjuk Gelar (LUG) di Kanigoro.

Untuk parade tingkat kabupaten ini, Mahira dan kawan-kawan berlatih rutin dua kali seminggu. Lagu yang mereka bawakan pun istimewa: Bunda dan Kasih Ibu – dua tembang kasih sayang yang menyentuh hati siapa pun yang mendengar.

“Persiapannya banyak latihan dan belajar. Alhamdulillah tidak ada kesulitan sama sekali. Harapannya semoga sekolah kami semakin maju dan sukses,” ujar Mahira dengan senyum mengembang.

Dari tabuhan drum anak-anak madrasah itu, kita belajar: masa depan Kediri Berbudaya tidak sedang menunggu, tapi sedang berjalan – dengan langkah kecil yang penuh semangat, percaya diri, dan cinta tanah air.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *