Berjuang di tengah keterbatasan ekonomi, F. Irfando Jovan Kantur menuntaskan kuliah Akuntansi dalam empat tahun berkat KIP Kuliah. Gelar sarjananya ia persembahkan untuk sang ibu yang bekerja keras demi keluarga.
Kediri,Montera.co.id — Bukan kemewahan yang mengantarkan F. Irfando Jovan Kantur ke panggung wisuda, melainkan perjuangan seorang ibu yang tak pernah berhenti bekerja demi masa depan anaknya.
Putra sulung Endang, perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kediri, itu berhasil menyelesaikan kuliah Program Studi Akuntansi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri dalam empat tahun. Ia meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,96 dan masuk dalam daftar wisudawan terbaik tahun akademik 2025/2026.
Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan perjuangan panjang menghadapi keterbatasan ekonomi. Saat biaya pendidikan menjadi tantangan bagi keluarganya, bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah menjadi salah satu penopang yang membantunya menuntaskan pendidikan tinggi.
Momen membanggakan itu berlangsung dalam Wisuda ke-68 UNP Kediri di Insumo Kediri Convention Center (IKCC), Selasa (27/10/2026).
Bagi Irfando, gelar sarjana dan predikat wisudawan terbaik bukan sekadar pencapaian pribadi. Ada sosok ibu yang ingin ia bahagiakan melalui keberhasilan tersebut.
“Saya bersyukur bisa diwisuda dan lulus tepat waktu. Semua ini berkat doa orang tua, terutama ibu saya, dukungan bapak dan ibu dosen, serta pihak kampus. Saya juga bersyukur mendapat bantuan pemerintah melalui KIP Kuliah,” ujar Irfando.
Ia mengaku sengaja mempersembahkan pencapaian itu untuk sang ibu. Menurutnya, kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus belajar dan memberi manfaat bagi orang lain.
“Ini semua saya persembahkan untuk ibu saya. Ini bukan hasil akhir, tetapi awal bagi saya untuk menjadikannya motivasi agar terus belajar dan bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Penghasilan untuk Bertahan, Doa untuk Masa Depan Anak
Di sisi lain, kebahagiaan itu terasa begitu berarti bagi Endang. Perempuan berusia 53 tahun tersebut mengaku sangat bersyukur melihat putranya mampu menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih prestasi.
“Senang sekali, sangat bersyukur punya anak yang membanggakan orang tua,” ucapnya.
Perjuangan Endang bukan perkara ringan. Sebagai pembantu rumah tangga, ia harus mengandalkan penghasilannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, pendidikan anak menjadi harapan besar yang ingin ia wujudkan meski kondisi ekonomi keluarga terbatas.
Ia mengakui persoalan biaya menjadi salah satu kendala terberat selama mendampingi pendidikan Irfando. Bantuan KIP Kuliah sangat membantu meringankan beban pendidikan, sehingga Endang dapat tetap berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Di tengah keterbatasan itu, ia terus menguatkan diri dengan doa dan keyakinan bahwa anaknya bisa meraih masa depan yang lebih baik.
Kini, kerja keras tersebut berbuah kebanggaan. Sang anak berhasil berdiri sebagai sarjana, membawa pulang prestasi akademik, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Irfando tak ingin pencapaiannya berhenti di bangku wisuda. Ia mengaku telah memperoleh tawaran kerja di Surabaya pada 2 November 2026.
Keputusan tersebut menunjukkan tekadnya untuk terus mengembangkan diri setelah menuntaskan pendidikan Akuntansi di UNP Kediri. Baginya, keberhasilan hari ini harus menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh, bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Sementara itu, Wisuda ke-68 UNP Kediri berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Oktober 2026. Sebanyak 1.867 wisudawan dan wisudawati dari program diploma, sarjana, dan magister mengikuti prosesi wisuda di IKCC Kediri.
Berdasarkan lampiran Surat Keputusan Rektor UNP Kediri Nomor 1349.01/UN PGRI-Kd/A/X/2026 tertanggal 5 Oktober 2026, terdapat delapan wisudawan terbaik dari berbagai program studi.
Di antara para lulusan tersebut, kisah Irfando menjadi potret bahwa keberhasilan akademik bukan semata-mata soal angka di transkrip nilai. Ada kerja keras, kesempatan memperoleh pendidikan, dan pengorbanan keluarga yang ikut mengantarkan seorang mahasiswa menuju garis finis.
Bagi Irfando, IPK 3,96 mungkin tercatat sebagai prestasi akademik. Namun, bagi Endang, keberhasilan putranya adalah buah dari perjuangan panjang yang akhirnya terbayar dengan kebanggaan.(Dan/Ali)

