Musim Kemarau Dingin di Kediri, Suhu 21 Derajat Bikin 10 Ribu Ikan Cupang Mati Mendadak

Kediri,Montera.co.id- Musim kemarau tahun ini membawa berkah tersendiri bagi sebagian orang dengan udara yang lebih sejuk. Namun tidak bagi para petani ikan cupang di Kota Kediri. Suhu udara dingin yang ekstrem justru menjadi mimpi buruk yang menghambat budidaya.

Sudah beberapa bulan terakhir, petani ikan cupang di kawasan Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri mengeluhkan cuaca tak menentu. Di tengah musim kemarau, suhu air kolam anjlok drastis hingga menyentuh 21 derajat Celcius.


Suhu 21 Derajat Bikin Metabolisme Ikan Kacau
Suhu dingin tersebut berdampak langsung pada kesehatan ikan hias jenis Beta ini. Air kolam yang terlalu dingin membuat metabolisme ikan terganggu.

Ardiansyah, salah satu petani cupang di Ketami mengaku, nafsu makan ikan turun drastis, proses pencernaan menjadi lambat, dan ikan menjadi tidak aktif. Kondisi ini membuat ikan sangat rentan stres dan terserang penyakit.

“Kalau biasanya makannya lahap, sekarang banyak yang tidak mau makan. Airnya dingin sekali, jadi harus perawatan ekstra. Kalau tidak, ya mati,” ujar Ardiansyah Selasa (28/7/2026)

Untuk menjaga suhu tetap stabil, petani terpaksa melakukan berbagai upaya ekstra, mulai dari menutup kolam dengan plastik, mengurangi volume air, hingga memberikan pakan khusus agar daya tahan ikan tetap terjaga.

10 Ribu Ikan Mati, Petani Rugi Rp 50 Juta
Sayangnya, upaya tersebut belum mampu menahan dampak cuaca ekstrem sepenuhnya. Selama musim kemarau ini, sedikitnya 10.000 ekor ikan cupang milik petani di kawasan Ketami dilaporkan mati mendadak.

Kematian massal ini membuat petani harus menelan kerugian yang tidak sedikit. Ditaksir, kerugian akibat ribuan ikan cupang mati mencapai Rp 50 juta rupiah.

Saat ini, di Kelurahan Ketami sendiri terdapat sekitar 50 petani ikan cupang. Hampir semua dari mereka merasakan dampak yang sama. Padahal, budidaya ikan cupang menjadi salah satu penopang ekonomi warga setempat.

Strategi Bertahan di Musim Kemarau
Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, para petani kini memilih untuk mengambil langkah aman. Mereka terpaksa menurunkan frekuensi produksi dan fokus pada perawatan.

Jika biasanya bisa memijahkan ikan dalam jumlah besar, kini mereka mengurangi jumlah indukan. Tujuannya agar kondisi kolam lebih terkontrol dan suhu air bisa tetap stabil.

Kini, petani di kawasan tersebut hanya mengelola sekitar 50 ribu ekor ikan cupang sisa yang berhasil bertahan. Mereka berharap cuaca ekstrem ini segera berakhir dan suhu kembali normal agar budidaya bisa kembali pulih.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *