Sapaan Hangat Gus Salam di Kupang: “PBNU Harus Lebih Peduli pada NU Luar Jawa”

Kupang,Montera.co.id– Menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar pilihan organisasi, melainkan sebuah panggilan suci dari nurani terdalam. Di wilayah yang ditempa oleh kerasnya alam dan keterbatasan akses ini, para kader NU dituntut tumbuh layaknya pohon kelor: berakar dalam dan berbatang kuat, meski diterpa angin tantangan yang jauh lebih kencang dibandingkan di pusat Jawa.

 

Fakta geografis yang menantang ini menjadi fokus utama silaturahmi antara calon Ketua Umum PBNU, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), bersama jajaran Pengurus Wilayah (PWNU) dan Pengurus Cabang (PCNU) se-NTT. Pertemuan yang berlangsung di Hotel Neo Aston Kupang pada Minggu (7/6/2026) malam itu bukan sekadar seremonial, melainkan ruang dialog terbuka untuk mendengar suara dari garda terdepan NU di perbatasan.

 

Perjalanan Panjang Menuju Kupang

Sebelum dialog dimulai, suasana haru sudah terasa sejak siang hari. Para pengurus PCNU dari berbagai kepulauan tiba satu per satu setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Bagi mereka di daerah terpencil, mencapai pusat pemerintahan provinsi di Kota Kupang bisa memakan waktu lebih dari sehari.

 

Keterbatasan transportasi menjadi musuh utama. Tidak jarang, mereka harus antre hingga tiga hari hanya untuk mendapatkan tiket kembali ke daerah asal. Kondisi inilah yang membentuk ketangguhan karakter pengurus NU di NTT. Mereka hadir dengan semangat tinggi, membawa serta harapan besar agar suara mereka didengar oleh kepemimpinan nasional.

 

“Kami hormat dan ta’dhim kepada semua pengurus cabang di NTT yang hadir. Kami ingin mendengar dari mereka tentang apapun terkait jam’iyyah Nahdlatul Ulama di lingkungan mereka,” ujar Gus Salam jelang pertemuan dimulai. Ia menekankan bahwa tujuannya adalah menyerap aspirasi, terutama harapan untuk meningkatkan peran keagamaan dan organisasi di tengah dinamika lokal.

Pesantren sebagai Benteng Ideologi dan Ekonomi

Dalam paparannya, Gus Salam menguraikan visi strategisnya mengenai peran pesantren. Baginya, pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga strategi utama membendung paparan ideologis radikal sekaligus menjadi inkubator penggerak kemaslahatan umat.

 

“Di dalam pesantren dibangun ketahanan nasional; ditanamkan kepribadian luhur, menjaga kesatuan, cinta masyarakat, agama, dan bangsa,” ungkap Gus Salam.

 

Lebih lanjut, ia menyoroti aspek kemandirian ekonomi. Pesantren, menurutnya, harus mampu mencetak individu yang tangguh secara sosial dan ekonomi. “Dari pesantren tumbuh pedagang, pengusaha, petani tangguh, dan wiraswasta hebat. Bilapun ada yang menjadi pejabat atau tokoh nasional, itu karena kemampuan mereka beradaptasi dengan tantangan dan peluang,” tambahnya.

 

Visi ini sejalan dengan sejarah panjang NU yang didirikan untuk menyatukan barisan ulama pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa.

Harapan dari Daerah: Rekonsiliasi dan Pemerataan Pendidikan

Sesi dialog menjadi momen paling emosional. Para perwakilan PCNU menyampaikan kondisi faktual di lapangan. Tantangan utama yang dihadapi NU di NTT meliputi tiga aspek: geografis yang sulit, status wilayah perbatasan dengan Timor Leste, serta tantangan ideologis.

 

Kiai Latif Daka, Ketua PCNU Kabupaten Alor, menyampaikan harapan yang mewakili banyak hati di Indonesia Timur. “Harapannya, PBNU turut menjaga dan memelihara NU, merangkul, dan memiliki kepedulian terhadap pengurus NU yang di luar Jawa, terkhusus di NTT. Dan, berharap NU di NTT bisa memiliki pondok pesantren, sama seperti di Jawa,” katanya.

 

Senada dengan itu, Kiai Zainal Muttaqin dari PCNU Malaka menekankan pentingnya pendidikan. “Saya juga berharap, Ketua Umum PBNU ke depan bisa mengembalikan marwah NU, dan merangkul PCNU di luar Jawa, khususnya dalam mengembangkan program di bidang pendidikan,” ujarnya.

 

Pesan kunci dari seluruh peserta adalah perlunya kebersatuan. Rekonsiliasi nasional dinilai sebagai kunci untuk menjawab segala persoalan. Mereka mendesak agar PBNU ke depan lebih proaktif dalam mendampingi dan membimbing NU di Indonesia Timur dengan penuh kepedulian.

Apresiasi atas Pendekatan Humanis Gus Salam

Pendekatan Gus Salam yang rendah hati dan inklusif mendapat respons positif. PCNU Manggarai Timur menilai adanya aura “para sesepuh” yang melekat pada diri Gus Salam. Sementara PCNU Kota Kupang mengapresiasi kemampuannya dalam mengamalkan ajaran sesepuh NU, khususnya KH Nurul Huda Djazuli (Mbah Yai Da).

 

Ustaz Ajiz Anwar dari PCNU Kota Kupang memberikan catatan khusus mengenai materi yang disampaikan. “Paparan Gus Salam tidak menyudutkan siapapun dan tidak ada black campaign. Saya apresiasi dorongan program pondok pesantren di NTT, dan syukur-syukur ada program pesantren gratis,” ungkapnya.

Menjaga Harmoni di Tanah Pluralitas

Menutup rangkaian kegiatan, Gus Salam berpesan agar seluruh pengurus, fungsionaris, kader, dan warga NU di NTT tetap menjadi pelopor toleransi. Mengingat NTT adalah wilayah dengan pluralitas tinggi, peran NU sangat krusial dalam menjaga harmoni sosial.

 

“Terus kampanyekan pluralisme di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur. Jadilah penyejuk di tengah perbedaan,” pesan Gus Salam.

 

Silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan politik menjelang Muktamar, melainkan bukti nyata bahwa NU hadir untuk mendengarkan denyut nadi umat di daerah paling ujung Indonesia. Bagi Gus Salam, memperkuat NU di NTT berarti memperkuat akar NKRI itu sendiri.(*/Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *