Jombang,Montera.co.id – Suasana haru dan penuh harapan menyelimuti silaturahmi KH Abdussalam Shohib atau akrab disapa Gus Salam dengan para tokoh, sesepuh, serta struktur Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai penjuru Indonesia. Dari hasil dialog intensif tersebut, muncul satu suara bulat: kerinduan akan kepemimpinan PBNU yang solid, berintegritas, dan mengayomi.
Bukan didasari emosi sesaat, keinginan perubahan ini lahir dari kegelisahan mendalam. Para pengurus wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU) merindukan PBNU yang hadir sebagai pendamping sebelum dipanggil, bukan sekadar penguasa yang datang untuk mengumbar perintah demi mengamankan kursi kekuasaan.
“Mereka merindukan keteladanan. PBNU harus hadir mendampingi, bukan datang untuk menegaskan kuasa,” ujar Gus Salam dalam konferensi persnya di Denanyar, Jombang, pada Selasa (10/6/2026).
Gus Salam menekankan bahwa momentum saat ini adalah waktu yang tepat untuk merangkul daerah. Menurutnya, NU yang sejati adalah NU yang membuat elemen struktural di daerah, terutama pesantren sebagai akar jam’iyah, merasa dihargai dan menjadi besar.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Gus Salam menawarkan lima pilar strategis guna mengembalikan kehormatan dan wibawa PBNU di abad kedua organisasi ini.
1. Fokus pada Pendampingan Luar Jawa
Pilar pertama menyoroti pentingnya pergeseran fokus dari Jawa-sentris menjadi inklusif terhadap seluruh wilayah Indonesia. Gus Salam menegaskan bahwa PWNU dan PCNU di luar Jawa, khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), memiliki potensi dakwah Aswaja An-Nahdliyah yang luar biasa.
Namun, potensi ini sering terkendala minimnya akses dan pembinaan. “PBNU tidak boleh lagi bersikap sentralistik dengan intervensi berlebihan. Kita harus merawat dan menghormati mereka sebagai garda depan dakwah,” jelasnya. Sinergi dan fasilitasi solusi menjadi kunci agar daerah dapat mengelola peluang dan tantangan secara mandiri.
2. Rekrutmen Pengurus Berbasis Integritas, Bukan Popularitas
Fondasi utama organisasi yang akuntabel terletak pada siapa yang menjalankannya. Gus Salam menegaskan komitmen untuk merekrut pengurus yang kapabel, berjiwa pengabdian, dan memiliki rekam jejak nyata.
“Ukurannya bukan kedekatan atau popularitas, tapi ikhlas berkhidmah. Kita butuh pengurus yang jujur dan mampu bekerja, bukan yang pragmatis politik,” tegasnya. Tujuannya jelas: mengembalikan ruh para muassis (pendiri) NU yang mengabdi tanpa pamrih, serta menempatkan kepentingan jam’iyah dan bangsa di atas interest pribadi.
3. Merawat Persaudaraan dan Menghidupkan Ruh Perjuangan
Di tengah dinamika perbedaan pendapat, PBNU memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan NU kembali sebagai “rumah besar” yang adem, teduh, dan marem (nyaman). Gus Salam mengajak seluruh elemen untuk kembali pada Mukadimah Qonun Asasi dan Khittah NU sebagai pedoman utama.
“Kita harus menjaga adab ukhuwah nahdliyyah dan menghidupkan semangat perjuangan muassis: berjuang untuk Islam, bangsa, dan kemanusiaan,” imbuhnya. Kebijaksanaan berbasis hikmatu al-hukama’ atau ilmu para ulama menjadi instrumen taktis untuk memajukan organisasi tanpa kehilangan jati diri.
4. Tata Kelola Transparan dan Profesional
Kepercayaan publik hanya bisa dibangun melalui transparansi. Gus Salam berkomitmen menerapkan tata kelola organisasi yang modern, terbuka, dan akuntabel. Ini mencakup keterbukaan informasi program kerja, laporan keuangan, hingga evaluasi kinerja yang dapat diakses oleh pemangku kepentingan.
“Sistem digital dan audit internal akan diperkuat. Setiap kebijakan dan pendanaan harus bisa dipertanggungjawabkan kepada warga NU. Tidak ada lagi ruang untuk ketidakjelasan,” ujarnya. Prinsip transparansi ini diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan internal maupun eksternal terhadap lembaga PBNU.
5. Menjaga Harmoni, Terbuka pada Kolaborasi dan Inovasi
Terakhir, Gus Salam menekankan bahwa NU tidak alergi terhadap perubahan, namun memiliki cara khas dalam meresponsnya. Perubahan harus tetap menjaga kepribadian organisasi sambil membuka pintu lebar bagi kolaborasi dan inovasi.
“Tugas PBNU ke depan ada tiga: memberi rambu pemandu, memberi panggung untuk berkembang, dan memberi perlindungan atas azas manfaat,” paparnya. Inovasi didorong agar layanan NU tetap relevan dengan tantangan zaman, selama tidak keluar dari koridor akidah, fikrah, dan khittah NU.
Penutup: Kekuatan NU Ada di Daerah
Melalui lima pilar ini, Gus Salam ingin membuktikan sebuah filosofi sederhana namun mendalam: NU menjadi besar bukan karena kehebatan PBNU di pusat, melainkan karena kekuatan daerah dan instrumennya, amanahnya pengurus, serta nyala api perjuangan yang kembali hidup.
“Jika PBNU serius merespons harapan PWNU, PCNU, dan PCINU, maka kesungguhan itu harus diuji dalam mekanisme resmi seperti Konbes, Munas, dan Muktamar. Mari kita buktikan dengan tindakan, bukan sekadar janji,” pungkas Gus Salam menutup pernyataannya.(Dan/Ali)







