Kediri, Montera.co.id– Perbaikan infrastruktur yang diharapkan membawa angin segar, justru kerap menyisakan pilu bagi pelaku usaha kecil di sekitarnya. Hal inilah yang kini tengah dirasakan oleh para pedagang di sekitar lokasi proyek pembangunan jembatan Kaliombo I yang baru berapa hari berjalan.
Penutupan total akses jalan akibat proyek tersebut berdampak sistemik terhadap perputaran roda ekonomi warga sekitar. Alih-alih mendapatkan solusi mobilitas, warga justru harus menelan pil pahit akibat sepinya pembeli.
Kondisi Jembatan yang Dinilai Masih Layak, Warga Pertanyakan Urgensi Proyek
Bagi masyarakat awam, proyek pembongkaran jembatan ini menyisakan tanda tanya besar. Pak Ari, salah seorang pemilik toko yang berada tepat di sekitar area terdampak, mengungkapkan keheranannya terkait urgensi dari proyek renovasi ini.
Menurut pantauannya sehari-hari, kondisi fisik jembatan lama sebenarnya masih sangat kokoh dan layak untuk dilalui kendaraan.
”Kalau menurut saya, kondisinya kayaknya ya masih bagus. Sebenarnya belum terlalu tua (umurnya) untuk dibongkar,” ujar Pak Ari saat ditemui di sekitar proyek.
Ketidakjelasan mengenai alasan mendasar di balik peremajaan jembatan ini membuat para pelaku usaha merasa dikorbankan demi proyek yang urgensinya belum mereka rasakan langsung.
Target Penyelesaian 7 Bulan Dinilai Terlalu Lama
Keluhan warga semakin memuncak ketika berbicara mengenai estimasi waktu pengerjaan. Proyek yang diproyeksikan memakan waktu hingga tujuh bulan ke depan dinilai sangat tidak realistis dan mencekik urat nadi perekonomian warga.
Waktu tujuh bulan tanpa akses jalan utama dianggap sebagai “hukuman” mati bagi toko-toko kelontong dan usaha jasa di sepanjang jalur tersebut.
”Katanya (target penyelesaian) tujuh bulan. Ya, itu terlalu lama,” keluh Pak Ari dengan nada kecewa.
Ia dan warga lainnya menilai, pihak kontraktor atau pemerintah daerah seharusnya bisa mempercepat proses pengerjaan atau minimal menyediakan jembatan alternatif yang layak agar mobilitas warga dan konsumen tidak terputus total. Keberadaan jalur alternatif dinilai menjadi satu-satunya penyelamat agar denyut ekonomi warga tidak mati suru.
Usaha Mati Total Tanpa Ada Kompensasi
Dampak yang paling memukul para pedagang adalah hilangnya omzet secara drastis sejak akses jalan ditutup total. Jalur yang dulunya ramai dilalui kendaraan, kini sepi bak kota mati.
”Iya, usaha di sana (sekitar jembatan) mati,” aku Pak Ari getir.
Ironisnya, di tengah hantaman badai ekonomi akibat proyek kedinasan ini, para pedagang mengaku sama sekali tidak mendapatkan perhatian atau ganti rugi dari pihak terkait.
”Kompensasi? Enggak ada,” pungkasnya singkat.
Kini, para pedagang hanya bisa pasrah sembari berharap ada keajaiban berupa percepatan proyek, atau setidaknya itikad baik dari pemerintah setempat untuk memberikan solusi nyata bagi kelangsungan hidup dapur mereka.
Sementara itu Pihak Pemerintah kota Kediri melalui Dinas PUPR berharap Proyek Jalan Nasional itu bisa dipercepat tidak sampai 7 Bulan.
“Kami sudah koordinasikan mas untuk bisa dipercepat pembangunannya, sejauh ini memang ada perbaikan diposisi pondasi jembatan yang sudah mengantung baik Utara maupun selatan,”ungkap Endang Kartikasari selaku Kepala Dinas PUPR Kota Kediri,Jumat (5/6/2026).(Dan/Ali)







