Jamur Crispy Pojok Kediri, Produk Lokal yang Tembus Pasar IKN hingga Hong Kong  

Kediri,montera.co.id– Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor makanan ringan di Kabupaten Kediri terus menunjukkan ketangguhannya. Salah satu yang menjadi bukti adalah usaha Jamur Crispy milik Siti Fatimah (56) di Desa Pojok, Kecamatan Wates, yang telah eksis sejak tahun 2012 dan kini pasarnya merambah hingga ke luar pulau bahkan mancanegara.

Varian Produk Lengkap, Jamur dan Usus Crispy Jadi Favorit

Selama lebih dari satu dekade, usaha ini terus berkembang dengan memproduksi berbagai camilan gurih. Tidak hanya jamur crispy, Siti juga memproduksi usus crispy, jamur kuping, hingga olahan pare yang segar dan renyah.

Dari berbagai varian tersebut, jamur crispy dan usus crispy menjadi dua produk unggulan yang paling banyak diminati konsumen. Dalam sehari, Siti membutuhkan sekitar 50 kilogram jamur segar untuk memenuhi permintaan pasar yang stabil, bahkan bisa mencapai beberapa kuintal dalam seminggu saat musim ramai.

Produk ditawarkan dalam berbagai ukuran kemasan mulai dari 25 gram, 100 gram, hingga 200 gram agar bisa menjangkau semua kalangan.

Laris Manis di Toko Oleh-Oleh, Sampai ke IKN dan Hong Kong

Strategi pemasaran yang dilakukan sangat maksimal. Selain memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok, produk “Jamur Crispy Pojok” ini juga dititipkan di pusat-pusat oleh-oleh besar di Kediri.

Mulai dari Swalayan Besar TOP, Toko Pitono, hingga Pusat Oleh-Oleh Rahayu menjadi tempat langganan yang selalu menampung produk ini.

“Alhamdulillah, kalau dititipkan di toko-toko itu selalu habis, tidak ada yang dikembalikan,” ujar Siti saat ditemui, Minggu (26/4/2026).

Jangkauan pasarnya pun sangat luas. Tidak hanya di wilayah Kediri dan Jawa Timur, camilan ini telah dikirim hingga ke Kalimantan, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), dan Samarinda. Bahkan, sebelumnya produk ini pernah menembus pasar internasional hingga ke Hong Kong dan Taiwan.

Hadapi Kenaikan Harga Bahan Baku, Harga Tetap Stabil

Di balik kesuksesannya, usaha ini tentu menghadapi tantangan, terutama fluktuasi harga bahan baku seperti minyak goreng dan plastik kemasan yang cenderung naik.

Meski biaya produksi membengkak, Siti berusaha sekuat tenaga untuk tidak menaikkan harga jual secara signifikan demi menjaga daya beli masyarakat.

“Sekarang bahan-bahan naik semua. Tapi kami tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena harus menyesuaikan dengan daya beli masyarakat,” ungkapnya.

Saat ini, harga jual berkisar Rp75.000 per kg untuk jamur dan pare crispy, serta Rp80.000 per kg untuk usus dan jamur kuping. Salah satu keunggulan lainnya adalah daya tahannya yang bisa mencapai 4 bulan jika disimpan di tempat sejuk tanpa mengurangi rasa.

Budidaya Sendiri Jaga Stok, Dukungan Desa Jadi Modal Kuat

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, terutama saat momen Lebaran, Siti mulai melakukan budidaya jamur secara mandiri. Langkah ini dilakukan agar pasokan tetap stabil dan tidak bergantung sepenuhnya pada suplier luar.

Bagi Siti, usaha ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan perjalanan panjang ketekunan yang didukung penuh oleh Pemerintah Desa Pojok. Dengan kualitas yang terus dijaga, Jamur Crispy Pojok siap terus melebarkan sayap dan mengharumkan nama produk UMKM Kediri di pasar yang lebih luas.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *