Kediri,Montera.co.id– Kekuatan media sosial benar-benar mengubah nasib Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Patung Macan Putih yang sempat viral karena menuai cibiran warganet, kini justru bertransformasi menjadi ikon wisata baru yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat secara signifikan.
Memanfaatkan momentum tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Balongjeruk bergerak cepat dengan menggelar berbagai aktivasi sosial, salah satunya melalui agenda rutin Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu di kawasan monumen tersebut.
Momentum Emas: CFD dan Kehadiran ‘Bus Hantu’ Alas Roban
Kepala Desa Balongjeruk, M. Safi’i, mengungkapkan bahwa viralnya patung tersebut merupakan peluang emas yang tidak boleh disia-siakan. Berdasarkan hasil rapat bersama panitia pengelola, kawasan monumen Macan Putih akan disulap menjadi pusat keramaian setiap akhir pekan.
”Insya Allah setiap hari Minggu kita adakan CFD. Untuk besok, 11 Januari 2026, kegiatan akan diisi dengan senam bersama, hiburan musik DJ, hingga wahana bus hantu,” ujar Safi’i, Sabtu (10/1/2026).
Daya tarik utama pada CFD pekan ini adalah kehadiran wahana Bus Hantu dari film Alas Roban. Uniknya, wahana yang sebelumnya populer di pusat perbelanjaan Kota Kediri ini didatangkan secara gratis bagi pengunjung. Warga bisa berfoto dan melihat langsung isi bus tanpa dipungut biaya tiket masuk sebagai bentuk hiburan rakyat.
Dari Kontroversi Menuju Rezeki: Penolakan Warga yang Berubah Total
Di balik keramaian saat ini, tersimpan cerita unik mengenai proses penerimaan masyarakat. Saat foto patung Macan Putih pertama kali viral, banyak warganet memberikan komentar negatif karena bentuk visualnya yang dianggap tidak menyerupai harimau pada umumnya.
Bahkan, pada awal pendirian, sempat muncul desakan dari sebagian warga agar patung tersebut dibongkar atau dipindahkan. Namun, seiring dengan membludaknya jumlah pengunjung yang datang dari berbagai daerah, suara sumbang tersebut perlahan sirna berganti dukungan.
”Awalnya memang ada komplain, ada yang minta dibongkar. Tapi setelah viral dan membawa rezeki bagi banyak orang, warga kini justru tidak menghendaki patung itu dipindah,” jelas Safi’i.
Kini, lokasi tersebut tidak pernah sepi. Terutama pada malam Minggu dan hari libur, ratusan pengunjung memadati area patung hanya untuk sekadar berfoto atau membuat konten video demi menjawab rasa penasaran mereka.
Lonjakan Pedagang dan Pengelolaan Kawasan
Dampak ekonomi nyata terlihat dari membludaknya jumlah Pedagang Kaki Lima (PKL). Pada hari biasa, terdapat sekitar 90 hingga 100 pedagang yang mencari nafkah di sekitar patung. Angka ini melonjak drastis saat malam Minggu atau momen CFD, di mana jumlah pedagang bisa mencapai lebih dari 150 orang.
Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan, Pemdes Balongjeruk mulai memberlakukan retribusi kebersihan sebesar Rp 5.000 per kavling pedagang sejak Jumat (9/1/2026). Dana yang terkumpul dikelola oleh tim khusus untuk memastikan area tetap bersih dan memberikan kompensasi bagi warga terdampak keramaian yang tidak berjualan.
Kades Safi’i bahkan memberikan teladan langsung dengan ikut berjualan tahu di lokasi tersebut. Aksi ini dilakukan bukan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk memotivasi warga desa agar berani mengambil peluang usaha di tengah keramaian yang ada.
Rencana Jangka Panjang: Pusat Wisata dan Pasar Desa
Melihat potensi besar ini, Pemerintah Desa Balongjeruk mulai merancang pengembangan kawasan secara lebih profesional. Beberapa rencana strategis yang tengah digodok antara lain penataan area PKL yang lebih rapi, pengembangan pasar desa, hingga penyediaan fasilitas pendukung seperti toilet umum dan kantong parkir yang lebih luas.
Safi’i berharap Pemerintah Kabupaten Kediri dapat memberikan dukungan, terutama terkait perizinan lahan dan bantuan fasilitas permanen. Dengan penataan yang baik, diharapkan fenomena Patung Macan Putih ini tidak hanya menjadi tren sesaat, melainkan menjadi aset wisata desa yang berkelanjutan.
”Ini adalah momen yang harus kita kelola dengan baik. Setiap CFD akan kita usahakan ada kegiatan menarik. Intinya, patung ini kita jadikan berkah untuk seluruh warga desa,” tutupnya.(Dan/Ali)







