Ritual Sakral Jelang Imlek 2026: Patung Makco Berusia Lebih Dua Abad Dimandikan di Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri

Sembahyang Songsen Sebagai Pembuka Prosesi Sakral

Kediri,Montera.co.id– Patung Makco yang telah berusia lebih dari dua abad menjadi sorotan dalam ritual pembersihan sakral jelang Tahun Baru Imlek di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Kota Kediri. Prosesi ini merupakan bagian dari sembahyang Songsen yang digelar setiap tanggal 24 bulan 12 penanggalan Imlek, sebagai rangkaian menyambut perayaan Tahun Kuda Api 2026 pada Rabu (11/02/2026).

Sembahyang Songsen sendiri adalah upacara untuk mengantarkan Dewa-Dewi naik ke kayangan. Menurut kepercayaan umat Tri Dharma, momen ini menjadi waktu bagi para Dewa-Dewi untuk melaporkan seluruh perbuatan dan perilaku manusia selama satu tahun kepada Tuhan Yang Maha Esa. Usai upacara sembahyang, barulah dilakukan prosesi bersih-bersih altar dan rupang (patung Dewa-Dewi) yang hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun.

Patung Makco Tertua Diberikan Perawatan Khusus

Ketua Yayasan Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Prayitno Sutikno, menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan bentuk bakti dan rasa syukur umat dalam menyambut tahun baru. “Bersih-bersih altar dan patung ini dilaksanakan setahun sekali setiap menjelang Tahun Baru Imlek. Sebelumnya kita melakukan sembahyang Songsen untuk mengantarkan Dewa-Dewi ke kayangan,” jelasnya.

Dalam keyakinan umat, sebelum Imlek para Dewa naik ke nirwana dan meninggalkan rupangnya, sehingga patung dianggap kosong dan perlu dibersihkan. “Saat para Dewa naik ke nirwana, rupang atau patung dianggap kosong. Di situlah waktunya kita membersihkan dan mensucikan altar agar ketika kembali, para Dewa menempati tempat yang sudah bersih,” tambah Prayitno.

Di klenteng yang memiliki 17 altar dengan total sekitar 100 rupang ini, altar utamanya adalah Mazu atau Tian Shang Sheng Mu yang dikenal sebagai Makco, Dewi Samudera. Salah satu rupang Makco yang dimandikan tahun ini telah berusia lebih dari 200 tahun dan menjadi salah satu patung tertua di klenteng tersebut.

Tahapan Pembersihan Dilakukan dengan Khidmat dan Teliti

Proses pembersihan dimulai dengan mendokumentasikan posisi setiap rupang dan altar melalui foto agar susunannya dapat dipulihkan sesuai semula. Setelah itu, jubah atau pakaian rupang dilepas dan dicuci menggunakan air sabun. Patung kemudian dibersihkan dengan campuran air sabun dan air kembang, sementara debu halus dibersihkan secara hati-hati menggunakan kuas.

Sebelum mengikuti ritual, para petugas diwajibkan berpuasa dan menjaga perilaku baik. Puasa dilakukan dengan makan satu kali sehari selama minimal tiga hari, bahkan ada yang menjalankannya hingga tujuh hari. Tujuannya adalah untuk melatih pengendalian diri agar proses penyucian berjalan lancar dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Proses pembersihan biasanya dimulai sekitar pukul 12.00 WIB dan selesai antara pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Di sela-sela prosesi, dilakukan permohonan konfirmasi spiritual untuk memastikan posisi dan penataan rupang telah sesuai. Jika dirasa belum tepat, maka akan dilakukan perbaikan hingga dianggap berkenan.

Ritual Menarik Perhatian Warga Etnis Tionghoa

Ritual memandikan puluhan patung Dewa-Dewi ini tidak hanya menjadi tradisi sakral, tetapi juga menarik perhatian banyak warga etnis Tionghoa di Kota Kediri. Banyak yang turut menyaksikan bahkan mengikuti prosesi dengan penuh khidmat, seraya berharap memperoleh keberkahan dan kelancaran dalam menyambut tahun baru.

Prosesi ini menjadi rangkaian awal menuju puncak perayaan Imlek di Kota Kediri yang akan digelar dalam waktu dekat, dengan harapan membawa berkah bagi seluruh masyarakat tanpa memandang suku dan agama.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *