Kediri,Montera.co.id – Setiap kali angin bertiup dan hujan turun deras, Sumiin (49) dari Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, selalu harus bersiap menghadapi uap dingin yang menyusup dari celah dinding bambu dan air yang merembes ke dalam rumah peninggalan orang tuanya. Setelah hampir 20 tahun tak pernah direnovasi besar-besaran, rumahnya kini berdiri lebih kokoh berkat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127.
Hidup Berjuang Penuhi Kebutuhan Harian, Tak Berani Mimpi Renovasi Rumah
Rumah yang menjadi tempat tinggal Sumiin dan keluarganya selama dua dekade hanya terbuat dari bambu yang sudah mulai lapuk. Sebagai pekerja blandong kayu yang hanya bisa menghasilkan maksimal Rp 100.000 per hari, ia harus memprioritaskan kebutuhan makan untuk empat hingga lima orang keluarga ketimbang menyisakan uang untuk memperbaiki rumah.
“Saya kerja sebagai blandong kayu. Sehari paling dapat sekitar Rp 100.000. Itu cukup untuk makan empat sampai lima orang hari itu saja,” ujarnya pada Sabtu (21/2/2026).
Dengan tiga anak – salah satu sudah menikah dan tinggal bersama, sementara dua lainnya masih bersekolah – penghasilan hariannya habis untuk kebutuhan sehari-hari tanpa ada sisa untuk tabungan. “Yang penting keluarga bisa makan, saya sudah merasa cukup,” tambahnya.
Kedatangan Rombongan TNI Bawa Kabar Gembira
Keterkejutan datang ketika rombongan anggota TNI bersama Kepala Dusun Sumber Bahagia, Sunaryo, mengunjunginya dengan kabar bahwa rumahnya akan dibongkar dan dibangun ulang secara cuma-cuma melalui program TMMD. Awalnya, Sumiin tidak percaya karena menyadari membangun rumah membutuhkan biaya besar yang tak mungkin ia sanggupi.
“Saya sempat tidak percaya. Bangun rumah kan perlu biaya besar. Sedangkan saya tidak punya tabungan,” tuturnya.
Sunaryo menjelaskan bahwa perbaikan rumah merupakan bagian dari kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kediri dan TNI AD melalui Kodim 0809/Kediri, yang menyasar rumah warga tidak mampu dan tidak layak huni. Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong, dengan dinding bambu diganti material permanen, atap diperbaiki, dan struktur diperkuat.
Rumah Baru Jadi Tempat Aman dan Penopang Harapan
Kini, rumah Sumiin berdiri dengan lebih kokoh. Suara desir angin dari celah bambu yang selama ini ia dengarkan kini digantikan oleh ketenangan di dalam ruangan yang terlindungi dari cuaca ekstrem. Bagi Sumiin, perubahan ini bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan rasa aman yang jarang ia rasakan selama ini.
“Perasaannya campur jadi satu. Kaget, senang, haru. Saya hanya bisa berterima kasih,” ucapnya dengan emosional.
Menurut Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) TMMD ke-127 Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah, S.Sos M.A.P, rehabilitasi rumah tidak layak huni menjadi salah satu prioritas program TMMD. “Melalui TMMD, kami ingin memastikan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat. Rumah yang layak adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara TNI dan pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Sementara itu, Sunaryo menyebutkan bahwa rumah Sumiin masuk dalam daftar prioritas setelah melalui pendataan bersama perangkat desa untuk memastikan bantuan tepat sasaran. “Program ini sangat membantu warga,” ujarnya.
Bagi Sumiin, tembok baru yang kokoh bukan hanya melindungi keluarganya dari cuaca, tetapi juga menjadi penopang harapan bagi masa depan anak-anaknya.(Dan/Ali)







