Kediri,Montera.co.id– Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah perjuangan kolektif antara kekuatan bersenjata dan kaum sarungan. Semangat inilah yang melandasi kunjungan silaturahmi Komandan Kodim (Dandim) 0809/Kediri, Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah, ke Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kota Kediri, Senin (6/4/2026).
Kunjungan ini menjadi langkah awal Letkol Inf Dhavid sebagai pejabat baru untuk “sowan” dan merajut komunikasi dengan tokoh-tokoh sentral di Kediri Raya.
Menyambung Tali Silaturahmi dan Penguatan Program Nasional
Dalam pertemuan yang berlangsung di Wisma Tentram tersebut, Letkol Inf Dhavid menekankan pentingnya dukungan dari kalangan pesantren terhadap program-program negara, baik program nasional TNI maupun program khusus Angkatan Darat.
”Keberadaan kami di sini untuk menyambung tali silaturahmi kepada seluruh tokoh di Kediri Raya. Mengingat cikal bakal negara ini berasal dari tentara dan santri, kami memohon dukungan untuk penguatan koordinasi di lapangan,” ujar Dandim 0809/Kediri.
Dandim juga berharap adanya komunikasi intensif antara jajaran TNI dengan pihak pesantren untuk memastikan setiap program kewilayahan dapat berjalan harmonis dan tepat sasaran.
Kolaborasi Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan
Ketua Ponpes Wali Barokah Kediri, KH. Sunarto, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menyebut kehadiran Dandim beserta staf merupakan sebuah kehormatan bagi keluarga besar pesantren. Menurutnya, hubungan antara Kodim 0809 dan Ponpes Wali Barokah selama ini telah terjalin dengan sangat baik.
”Kami telah merencanakan beberapa hal yang dapat dikerjasamakan. Salah satunya adalah kegiatan rutin pembekalan Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan bagi para santriwan dan santriwati,” jelas KH. Sunarto.
Ia menambahkan bahwa pesantren memiliki tiga misi utama: pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan. Dalam hal ini, potensi TNI melalui program seperti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) sangat relevan untuk dikolaborasikan dengan kemandirian pesantren.
Menjaga Warisan Sejarah: Dari Budi Utomo hingga Hari Santri
KH. Sunarto juga mengamini pernyataan Dandim mengenai kedekatan historis antara TNI dan Santri. Ia memaparkan bahwa peran tokoh Islam dalam mempertahankan kemerdekaan, mulai dari era Budi Utomo hingga perlawanan fisik merebut kemerdekaan, adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.
”Adanya Hari Santri setiap 22 Oktober adalah pengakuan nyata atas peran santri dalam mempertahankan NKRI. Jadi, apa yang disampaikan Pak Dandim bahwa TNI dan Santri tidak bisa dipisahkan adalah sebuah realitas historis,” pungkasnya.
Menyongsong Hari Kebangkitan Nasional mendatang, kedua belah pihak sepakat untuk memformulasikan kegiatan pembekalan yang lebih konkret guna memupuk rasa cinta tanah air bagi generasi muda di lingkungan pondok pesantren.(Dan/Ali)







