Petugas Ketiduran Hingga KA Brantas Nyaris Tabrak Pengendara, Flayover Mengkreng yang Mangkrak 20 Tahun Kembali diungkit

Kediri,Montera.co.id- Rekaman video berdurasi 27 detik itu bikin jantung siapa pun yang menontonnya copot. Rabu (22/7/2026) dini hari, KA Brantas melaju kencang membelah gelapnya Simpang Mengkreng, Kabupaten Kediri. Di saat bersamaan, palang pintu perlintasan masih menganga ke atas. Sepeda motor dan mobil yang sudah terlanjur maju, panik mengerem mendadak.

Tidak ada korban jiwa. Tapi insiden yang viral itu cukup untuk membangunkan pemerintah dari tidur panjangnya.

Usut punya usut, nyarisnya tragedi itu dipicu hal sepele namun fatal: petugas penjaga palang diduga ketiduran karena kelelahan.

Insiden Mengkreng itu kini tak berhenti sebagai cerita viral. Riaknya sampai ke meja Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Perhubungan. Alarm bahaya itu kembali mengingatkan pada satu janji infrastruktur yang tertunda hampir dua dekade: Flyover Simpang Mengkreng.

Bukan Sekadar Ketiduran
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebut insiden ini sebagai bukti nyata betapa mahalnya harga sebuah kelalaian manusia atau human error di perlintasan sebidang.

“Kekhawatiran kami bukan sekadar ketiduran itu tadi, bukan. Tapi bagaimana faktor human error ini bisa memicu bahaya besar. Ini menjadi perhatian serius kami,” tegas Emil, Jumat (24/7/2026).

Kekhawatiran Emil bukan tanpa dasar. Luka lama akibat kecelakaan perlintasan masih segar. Tahun lalu, kecelakaan maut di Magetan juga bermula dari asumsi salah petugas jaga.

Pemprov Jatim mencatat, potret perlintasan sebidang di Jawa Timur memang masih mengkhawatirkan. Saat ini tercatat ada 213 JPL Resmi tanpa palang yang sudah terdaftar namun belum memiliki pengaman dan butuh anggaran untuk gaji penjaga, serta 83 JPL Liar yang tak berizin dan harus segera ditutup.
Dibalik Palang: Kerja 12 Jam Sendirian
Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya, DJKA Kemenhub, akhirnya buka suara soal akar masalah di lapangan.

Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, mengakui beban kerja petugas jauh dari kata ideal. Keterbatasan SDM memaksa satu orang harus siaga dalam waktu yang tidak manusiawi.

“Masih banyak permasalahan, salah satunya SDM yang sangat terbatas. Bahkan kami menemukan ada petugas yang harus berjaga hingga 12 jam sendirian,” ungkap Denny.

Kelelahan ekstrem itulah yang menggerus kewaspadaan. Sebagai mitigasi cepat, Kemenhub akan menggandeng pemerintah daerah untuk menambah personel agar sistem shifting lebih manusiawi, sambil mengkaji penggunaan teknologi bantu.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jatim, Nyono, menambahkan bahwa seluruh petugas perlintasan di bawah Pemda sebenarnya telah menjalani pelatihan ketat selama dua minggu di Akademi Perkeretaapian (PPI) Madiun dan mengantongi sertifikat resmi. Namun, sekuat apa pun pelatihan, fisik yang kelelahan tetap tak bisa dibohongi.

Wis Wayahe: Janji 20 Tahun yang Ditagih
Persoalan Mengkreng sesungguhnya lebih besar dari sekadar palang dan penjaga. Kawasan ini adalah ‘simpul neraka’ kemacetan Jawa Timur. Di sinilah jalur nasional dari tiga kabupaten – Kediri, Nganjuk, dan Jombang – bertemu dalam satu titik. Macet, semrawut, dan rawan kecelakaan sudah jadi makanan sehari-hari.

Solusi permanennya hanya satu: flyover.

Usulan itu bahkan sudah diajukan bersama oleh Gubernur Jatim dan tiga bupati terkait. Dan sejarahnya pun sudah sangat lama.

Rencana pembangunan flyover Mengkreng sejatinya sudah digagas Direktorat Jenderal Bina Marga sejak tahun 2007 silam. Hampir 20 tahun lalu. Namun saat itu, proyek harus ditangguhkan karena pemerintah memilih memprioritaskan pembangunan Flyover Peterongan di Jombang.

Dua dekade berlalu, tiang flyover yang dijanjikan itu tak kunjung berdiri.

“Ini sudah hampir 20 tahun. Harusnya flyover Mengkreng ini sudah berdiri tegak. Wis wayahe,” pungkas Emil.

Kini bola ada di tangan pemerintah pusat. Pertanyaannya, apakah harus menunggu ada nyawa yang benar-benar melayang untuk mewujudkan janji yang sudah berumur 20 tahun itu?.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *