Kediri,montera.co.id–Digitalisasi pasar rakyat melalui penerapan sistem pembayaran dan pencatatan retribusi non tunai di Kabupaten Kediri bakal diperluas. Sosialisasi pun terus dilakukan kepada pedagang di sejumlah pasar rakyat.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih menyampaikan, digitalisasi pasar rakyat ini sebelumnya baru dijalankan di Pasar Induk Pare dan Pasar Kras.
Tahun 2026 ini, pihaknya menargetkan bertambah di Pasar Wates, Pasar Bendo, Pasar Gringging dan Pasar Pamenang termasuk Pasar Ngadiluwih.
“Digitalisasi ini dilakukan untuk mencegah potensi kebocoran retribusi, karena transaksi langsung masuk ke kas daerah, termasuk pula meminimalisir terjadinya pungli,” katanya, Senin (20/7).
Ketika potensi-potensi kebocoran yang ada di pasar rakyat dapat dicegah, menurut Tutik diharapkan terjadi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari e-retribusi maupun e-parking.
“Ini sesuai dengan arahan Mas Bupati (Hanindhito Himawan Pramana) terkait peningkatan PAD tetapi tidak membebani pedagang,” ungkapnya.
Sosialisasi yang menggandeng pihak perbankan tersebut diikuti oleh perwakilan pedagang dan pengelola pasar. Nantinya, pedagang yang telah membuka rekening dibuatkan barcode untuk transaksi QRIS sekaligus pembayaran retribusi.
Transaksi secara digital ini juga bermanfaat bagi pedagang dalam menangkap pembeli. Pasalnya kini mulai banyak pembeli yang biasa bertransaksi menggunakan mobile banking atau dompet digital.
Untuk membantu pedagang pasar yang usianya sudah tua, pemerintah daerah berkoordinasi dengan pihak perbankan untuk menempatkan petugas laku pandai di pasar.
Nantinya petugas laku pandai ini yang akan membantu pedagang untuk menabung atau transaksi perbankan lain tanpa harus datang ke kantor bank.
“Melalui penerapan digitalisasi pasar rakyat ini kita berharap kepercayaan masyarakat khususnya pedagang juga meningkat karena pungutan menjadi lebih jelas,” pungkasnya.(ADV/PKP/Di/Ali)







