Kediri, Montera.co.id– Sebanyak lima siswa di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, dilarikan ke RSUD Simpang Lima Gumul (SLG) setelah diduga mengalami keracunan massal pada Senin (27/4).
Insiden ini terjadi di tengah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para korban yang terdiri dari siswa tingkat TK dan SD mulai mengeluhkan mual, muntah, dan sakit perut sekitar pukul 13.00 WIB saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Respons Cepat Medis dan Kondisi Korban
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Ahmad Khotib, membenarkan adanya laporan tersebut. Hingga Senin malam, empat siswa masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara satu siswa telah diperbolehkan pulang.
“Alhamdulillah keluhannya tidak terlalu mengkhawatirkan, hampir semuanya hanya mual dan muntah. Saat ini pihak rumah sakit masih melakukan observasi medis,” ujar dr. Khotib.
Ia menambahkan bahwa Satgas MBG telah turun ke lapangan untuk melakukan identifikasi awal. Pihaknya juga telah mengambil sampel sisa makanan untuk dilakukan uji laboratorium di Surabaya guna memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.
Klarifikasi SPPG: 5 dari 2.761 Siswa yang Terdampak
Menanggapi isu yang berkembang, pihak Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Tugurejo melalui perwakilannya, Anggi, memberikan klarifikasi terkait skala distribusi makanan pada hari tersebut. Ia menekankan bahwa kasus ini terjadi secara sangat terlokalisasi.
“Dari total 2.761 siswa yang menerima manfaat makan raya dari kami, hanya 5 orang saja yang terdampak. Itu pun hanya terjadi di satu sekolah,” jelas Anggi saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, angka ini menjadi poin penting dalam penyelidikan karena ribuan porsi lainnya yang diproduksi secara massal tidak menimbulkan gejala serupa di sekolah lain.
Masih Tahap Investigasi dan Dugaan Sementara
Anggi juga meminta masyarakat untuk bersabar dan tidak langsung menyimpulkan bahwa makanan dari program MBG adalah penyebab tunggal. Hingga saat ini, status kejadian masih merupakan “dugaan” dan menunggu hasil resmi laboratorium.
“Indikasinya apa, kita masih belum tahu pasti. Apakah memang benar dari faktor kami, atau mungkin ada faktor lain di lingkungan sekolah tersebut. Kami masih menunggu keterangan lebih lanjut,” tegas Anggi.
Pihak manajemen SPPG menegaskan bahwa instruksi dari pimpinan pusat adalah tetap memantau perkembangan dan bersikap kooperatif dalam proses penyelidikan yang sedang dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Satgas terkait.(Dan/Ali)







