Harga Sawi Naik Drastis, Petani Plosoklaten Panen Cuan

Kediri,montera.co.id– Kenaikan harga komoditas sayur-mayur dalam beberapa pekan terakhir membawa angin segar bagi para petani di Kabupaten Kediri. Khususnya untuk tanaman sawi, harga jual saat ini melonjak sangat signifikan hingga mencapai Rp50.000 per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya hanya berkisar ribuan rupiah.

 

Salah satu petani yang merasakan dampak positif ini adalah Yanto (55), warga Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten. Saat ditemui, Jum’at (24/4/2026), ia sedang asyik memanen sawi di lahannya seluas sekitar 140 ru.

 

Dari Rp2.000 Jadi Rp50.000, Lonjakan Harga Sangat Fantastis

 

Yanto mengaku sangat bersyukur dengan kondisi pasar saat ini. Harga sawi yang biasanya hanya dijual Rp2.000 per ikat kecil, kini bisa mencapai Rp50.000 untuk satu kilogramnya.

 

“Sekarang memang lagi naik harganya. Biasanya cuma dua ribuan per ikat kecil, tapi sekarang bisa sampai Rp50.000 per kilo,” ungkap Yanto dengan wajah ceria.

 

Kondisi ini tentu memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan hari-hari biasa. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa harga di sektor pertanian sangat fluktuatif dan sulit diprediksi.

 

 

 

Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan, Risiko Penyakit dan Biaya Tambah

 

Di balik keuntungan yang menjanjikan, petani tetap harus bekerja ekstra keras. Tantangan terbesar saat ini datang dari faktor alam, terutama curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

 

Sawi dikenal sebagai tanaman yang sensitif terhadap air berlebih. Genangan air dapat menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit seperti busuk daun, yang berisiko menyebabkan gagal panen.

 

“Kalau hujan terus, selain busuk daun, pertumbuhannya juga tidak maksimal. Masa panen yang seharusnya 30-35 hari bisa jadi molor atau rusak,” jelasnya.

 

Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit, terutama untuk pembelian obat-obatan guna membasmi hama dan mencegah penyakit. Selain itu, biaya bibit juga cukup besar, di mana satu kaleng benih merek Shinta dibeli sekitar Rp57.000 dan biasanya membutuhkan hingga tiga kaleng untuk satu musim tanam.

Harga Masih Bergantung Pasar, Petani Harus Cermat Membaca Peluang

 

Hingga saat ini, Yanto sudah melakukan panen sebanyak dua kali dan berencana kembali menanam untuk musim berikutnya. Namun, ia mengakui belum bisa memastikan berapa lama harga emas ini akan bertahan.

 

Harga jual yang diterima petani sangat bergantung pada tengkulak atau pembeli yang datang langsung ke lokasi, sehingga mengikuti harga pasar yang berlaku saat itu.

 

“Harga itu kita tidak bisa memastikan. Nanti tergantung pembeli, mengikuti harga pasar. Sekarang memang naik, tapi tidak bisa dipastikan akan terus seperti itu. Kadang juga berubah-ubah,” pungkasnya.

 

Meski penuh ketidakpastian, momen kenaikan harga ini tentu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para petani untuk menutupi biaya produksi dan mendapatkan keuntungan maksimal.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *