Kisah Binti Sholihah, Pengusaha Kediri yang Kirim Ribuan Paket Jenang Hingga ke Sulawesi dan Kalimantan

Kediri,Montera.co.id– Menjelang Idul Fitri, geliat industri penganan tradisional di Kediri mengalami lonjakan luar biasa. Binti Sholihah, produsen penganan lokal yang sukses, membagikan kisahnya dalam mengelola pesanan yang mencapai angka fantastis 8,5 ton demi memenuhi kebutuhan pasar dari berbagai pelosok Nusantara.

Meski bahan baku utama seperti ketan dan gula mengalami kenaikan, Binti memilih strategi unik dengan tidak menaikkan harga jual. Ia lebih memilih memperbesar volume produksi dan memperluas jangkauan pasar hingga ke luar pulau.

Jadi Langganan Pemudik, Tembus Kalimantan Hingga Papua

Produk buatan Binti kini tidak hanya dinikmati warga lokal Kediri. Berkat sistem pengiriman yang terintegrasi, penganan produksinya telah menjangkau wilayah Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Kualitas yang terjaga membuat banyak pelanggan setia kembali lagi setiap tahunnya. Salah satunya adalah Erna, pembeli asal Banyakan yang sengaja datang untuk memborong buah tangan.

“Saya sudah sering beli di sini, terutama waktu Lebaran. Biasanya rutin beli Madu Mongso, dan hari ini saya beli Wajik untuk hantaran. Rencananya semua ini mau saya bawa ke Jakarta untuk oleh-oleh,” ujar Erna saat ditemui di lokasi produksi.

Melayani Berbagai Paket Hantaran Fresh Setiap Hari

Untuk memudahkan konsumen seperti Erna yang ingin memberikan buah tangan atau seserahan, Binti menyediakan berbagai pilihan paket hantaran yang dimasak setiap hari sehingga terjamin kesegarannya (fresh).

Berikut rincian harga paket hantaran:

Paket Hantaran Jenang:

Ukuran 2 kg: Rp140.000

Ukuran 2,5 kg: Rp170.000

Ukuran 3 kg: Rp200.000

Paket Hantaran Wajik:

Ukuran 2 kg: Rp110.000

Ukuran 2,5 kg: Rp130.000

Ukuran 3 kg: Rp150.000

Paket Hantaran Jadah:

Ukuran 2 kg: Rp100.000

Ukuran 2,5 kg: Rp120.000

Ukuran 3 kg: Rp140.000

Selain paket besar, tersedia juga kemasan praktis menggunakan thinwall atau besek. Jenang kemasan 1 kg dibanderol seharga Rp60.000, sementara wajik 1 kg seharga Rp45.000.

Menjaga Kualitas dan Edukasi Ketahanan Produk

Salah satu kunci sukses Binti dalam melayani pengiriman luar pulau adalah transparansi mengenai ketahanan produk. Tanpa bahan pengawet berlebih, setiap penganan memiliki masa simpan yang berbeda-beda.

Madu Mongso menjadi primadona untuk pengiriman jauh karena mampu bertahan hingga 2-3 bulan. Sementara itu, jenang memiliki ketahanan hingga 1 minggu, wajik sekitar 2-3 hari, dan jadah hanya bertahan 1 hari.

“Madu Mongso memang paling diunggulkan untuk dibawa jauh karena keawetannya. Kalau untuk hantaran seperti Wajik atau Jenang, kami pastikan produknya baru matang agar tetap enak saat sampai di tujuan,” jelas Binti.

Berdayakan 50 Karyawan demi Kejar Target

Untuk menyelesaikan target produksi yang masif, Binti memberdayakan sekitar 50 karyawan. Proses pembungkusan Madu Mongso yang kecil-kecil dan memerlukan ketelitian dikerjakan oleh tim khusus berjumlah 20 orang.

Strategi “subsidi silang” yang diterapkan Binti terbukti ampuh. Dengan menjaga harga tetap stabil di tengah naiknya harga ketan, kepercayaan pelanggan seperti Erna justru meningkat, yang berujung pada bertambahnya jumlah pembeli baru setiap tahunnya.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *