Gus Basori Alwi Desak Muktamar NU Digelar di Pondok Pesantren: “Jangan di Hotel, Ini Soal Ruh Nahdlatul Ulama”

Kediri, Montera.co.id– Menjelang agenda akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), suara lantang datang dari kalangan pengasuh pondok pesantren. KH. Basori Alwi atau yang akrab disapa Gus Basori, Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Ibaad, Dusun Kaliawen Timur, Desa Ngino, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, secara tegas menyampaikan harapannya agar muktamar mendatang diselenggarakan di lingkungan pesantren, bukan di gedung mewah, hotel, atau vila.

Dalam pernyataannya kepada media, Kamis (8/4/2026), Gus Basori menegaskan bahwa hubungan antara NU dan pondok pesantren adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Baginya, memilih lokasi muktamar di luar pesantren sama saja mengabaikan akar sejarah dan spiritual organisasi terbesar di Indonesia tersebut.

“Pondok Pesantren adalah Ruh NU”

Gus Basori menyoroti pentingnya mengembalikan marwah acara tertinggi NU ke tempat asalnya. Ia menilai, pondok pesantren bukan sekadar bangunan fisik, melainkan jiwa atau “ruh” dari pergerakan Nahdlatul Ulama itu sendiri.

“Nahdlatul Ulama dan pondok pesantren ini tidak akan bisa terpisahkan. Pondok pesantren yang ada di Indonesia, khususnya yang berafiliasi dengan NU, adalah sebagian dari ruh Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Basori dengan nada tegas.

Ia secara spesifik merekomendasikan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri sebagai tuan rumah penyelenggara. “Kami sangat mendukung jika muktamar ini diadakan di Pondok Pesantren Lirboyo. Apa pun yang terjadi, semangat kepesantrenan harus menjadi nyawa dalam setiap keputusan muktamar,” tambahnya.

Tolak Kemewahan: Jangan Gelar di Hotel atau Vila

Lebih jauh, Gus Basori menyatakan sikap ketidaksetujuannya apabila panitia memutuskan untuk menggelar muktamar di fasilitas komersial seperti hotel, gedung pertemuan mewah, atau vila. Menurutnya, hal tersebut kurang mencerminkan identitas NU yang dekat dengan rakyat dan tradisi santri.

“Kami tidak berharap muktamar diadakan di sebuah gedung, hotel, atau vila. Kami sangat tidak mendukung langkah tersebut,” tegasnya. Pesan ini disampaikan sebagai bentuk teguran halus kepada siapa pun yang kelak dipercaya menjadi panitia pelaksana, agar tetap berpijak pada nilai-nilai kesederhanaan dan keasrian tradisi pesantren.

Seruan Netralitas dan Doa Keberkahan

Di tengah dinamika persiapan menuju muktamar, Gus Basori juga menyerukan pentingnya netralitas. Ia meminta seluruh pihak, baik pengurus di tingkat BPNO (Badan Pengurus NU Organisasi), BGNO, maupun MBGNO, untuk bersikap adil dan tidak memihak pada kepentingan golongan tertentu.

“Kami sangat memohon kenetralitas dari semua pihak dalam menghadapi muktamar ini. Siapa pun yang menjadi panitia, kami mendukung selama tujuannya untuk kemaslahatan umat,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Gus Basori mendoakan agar Muktamar NU yang akan datang dapat memberikan keberkahan bagi seluruh anggota jamayah, pengurus, dan segenap masyarakat Indonesia. “Semoga muktamar ini memberi keberkahan kepada kita semua,” pungkasnya.

Sikap Gus Basori ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan serius bagi Panitia Muktamar dalam menentukan venue, sekaligus mengingatkan kembali esensi perjuangan NU yang lekat dengan dunia pesantren.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *