Kediri,Montera.co.id – Menjelang perhelatan akbar Musyawarah Nasional (Munas) X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang dijadwalkan berlangsung pada 7–9 April 2026 mendatang, DPD LDII Kota Kediri menyatakan kesiapan penuh untuk melaksanakan instruksi pusat. Fokus utama kali ini adalah memperkuat komunikasi strategis di tingkat daerah dengan memanfaatkan momentum silaturahim Idul Fitri 1447 H.
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, sebelumnya telah mengeluarkan instruksi khusus kepada seluruh jajaran pengurus di Indonesia. Ia meminta agar momen Lebaran tahun ini tidak hanya dijadikan tradisi tahunan, melainkan sebagai wadah strategis untuk menjaring masukan konstruktif dari berbagai elemen masyarakat. Aspirasi yang terkumpul nantinya akan menjadi bahan vital dalam perumusan kebijakan organisasi pada Munas X, memastikan program kerja LDII selaras dengan kebutuhan umat dan bangsa.
Strategi Menjemput Bola: Dari Silaturahim ke Kebijakan Nasional
Menanggapi arahan tersebut, Ketua DPD LDII Kota Kediri, H. Agung Riyanto, menegaskan komitmen pihaknya untuk segera bergerak dinamis. LDII Kota Kediri akan menjalin komunikasi intensif dengan Pemerintah Kota Kediri, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat setempat.
“Kami di Kota Kediri siap menjalankan amanat pusat. Silaturahim Idul Fitri ini kami transformasikan menjadi sarana strategis untuk mendengar langsung suara dan kebutuhan warga Kediri. Aspirasi ini akan kami rangkum secara sistematis sebagai kontribusi pemikiran dari daerah untuk dibawa ke forum Munas X nanti,” ujar H. Agung Riyanto saat ditemui di Kantor DPD LDII Kota Kediri, Senin (30/3/2026).
Agung menekankan bahwa keberadaan LDII di tingkat daerah harus memberikan manfaat nyata (real impact). Oleh karena itu, sinkronisasi antara program kerja pusat dan kebutuhan lokal menjadi sangat krusial agar organisasi tetap relevan di tengah dinamika masyarakat.
Validitas Data dari Lapangan: Kunci Program Solusif
Senada dengan ketua DPD-nya, Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, menyoroti pentingnya validitas data yang bersumber dari akar rumput. Menurutnya, LDII Kota Kediri bertekad memastikan bahwa setiap usulan program dalam Munas X memiliki landasan kuat berdasarkan realita di lapangan, bukan sekadar asumsi.
“Komunikasi yang harmonis dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) di Kediri, mulai dari jajaran birokrasi hingga pimpinan organisasi masyarakat (ormas) lain, sangatlah penting. Kami ingin memastikan suara dari bawah tersampaikan dengan baik dan akurat. Dengan begitu, LDII bisa terus hadir sebagai organisasi yang responsif dan solutif bagi permasalahan konkret di Kota Kediri,” jelas Asyhari Eko.
Eko menambahkan bahwa pendekatan jemput bola ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan kebijakan yang tepat sasaran, terutama terkait pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan karakter, dan kerukunan antarumat beragama.
Munas X: Lebih Dari Sekadar Konsolidasi Internal
DPD LDII Kota Kediri berharap Munas X LDII nanti tidak hanya berhenti sebagai ajang konsolidasi internal organisasi semata. Lebih dari itu, forum tertinggi ini diharapkan mampu memperkuat peran LDII dalam membangun bangsa yang harmonis, berdaya saing, dan berkarakter Islami.
Melalui serapan aspirasi mendalam di daerah seperti Kota Kediri, keputusan yang dihasilkan dalam Munas diharapkan benar-benar mencerminkan kebutuhan riil masyarakat di era modern.
“Dengan semangat Idul Fitri yang penuh berkah, LDII Kota Kediri berkomitmen untuk terus mempererat sinergi demi menjaga kerukunan serta mempercepat pembangunan di Kota Kediri, selaras dengan visi nasional untuk Indonesia maju,” pungkas Asyhari Eko menutup pernyataannya.
Langkah proaktif LDII Kota Kediri ini dinilai sebagai contoh baik bagaimana organisasi kemasyarakatan dapat berfungsi sebagai jembatan aspirasi yang efektif antara masyarakat dan pengambil kebijakan di tingkat nasional.(Dan/Ali)







