Kediri,Montera.co.id– Banyak masyarakat di Kediri, Tulungagung, dan Trenggalek belum mengetahui adanya kunjungan rutin burung migrasi dari belahan bumi utara setiap musim dingin. Bahkan, masih ada anggapan salah bahwa burung tersebut merupakan parasit bagi pertanian, padahal faktanya mereka tidak mengganggu tanaman padi dan justru memberikan manfaat dengan memakan serangga di sekitar persawahan.
Hal ini dibenarkan oleh Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra atau akrab disapa Om Dev. Menurutnya, kawanan burung tersebut aktif di sawah mulai pagi hingga sore hari, dan juga terpantau berada di Pantai Cengkrong Trenggalek.
“Kalau untuk mengganggu spesies yang lain itu tidak. Karena makanannya itu berupa serangga, cacing kecil, seperti itu di area persawahan. Tidak ada kompetisi mencari makanan dengan jenis-jenis lokal,” ujar Om Dev pada Sabtu (24/01/2026).

MIGRASI RUTIN SETIAP TAHUN, MULAI OKTOBER SAMPAI MARET
Pria asal Tuban yang telah berkarier di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak 2009 ini menjelaskan bahwa migrasi burung dari belahan utara ke wilayah Kediri dan Tulungagung merupakan kegiatan rutin. Sebelumnya, BKSDA telah menggandeng Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UIN SATU Tulungagung untuk melakukan pengamatan tahunan terhadap burung migran di seluruh Indonesia.
“Maksudnya seluruh burung migran yang ada di belahan bumi Utara akan migrasi ke seluruh kawasan di Indonesia. Itu mungkin setiap tahun mulai dari sekitar bulan Oktober sampai Maret nanti,” bebernya.
Sampai saat ini, pihaknya belum menghitung total jumlah kawanan burung migrasi yang datang ke wilayahnya. Namun, selama dua tahun terakhir telah terdeteksi setidaknya 7 jenis burung, antara lain cerek kalung kecil (Charadrius Dubius), terik asia (Glareola), kicuit kerbau (Motacilla Tschutschensis), burung trinil (Actitis Hypoleuscos), burung layang-layang asia (Hirundo Rustica), trinil semak (Triga Glaeola), dan cerek kernyut (Pluvialis Fulva).
HANYA SAWAH SAJA, BURUNG TERIK ASIA TERCATAT HINGGA 5.000 INDIVIDU
Om Dev mengungkapkan bahwa pada pengamatan di persawahan Desa Jatimulyo Tulungagung, jumlah burung terik asia saja mencapai sekitar 5.000 individu – dan itu hanya di satu petak sawah, belum termasuk kawasan persawahan lainnya di Tulungagung dan Kediri.
“Kami belum menghitung semuanya tapi yang pasti ada kami pernah menghitung Burung Terik Asia yang ada di persawahan Desa Jatimulyo. Kalau tidak salah di Tulungagung itu sekitar 5.000-an individu. Itu baru satu petak sawah saja,” jelas lulusan Diploma III Manajemen Hutan Produksi IPB tahun 2006 ini.
AWAS PEMBURU BURUNG, MASYARAKAT DIMINTA JADI TUAN RUMAH BAIK
Meskipun tidak terlalu khawatir terhadap para petani, Om Dev mengaku lebih prihatin dengan adanya para pemburu burung. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi tamu dari luar negeri tersebut.
“Sudah jauh-jauh ke luar negeri datang ke kita kita sambut dengan baik dan membiarkan mereka saja, kita nikmati kita foto dokumentasi kita catat, termasuk nanti akan menjadi catatan ilmiah yang ada di daerah,” pesannya.
Selain itu, pihaknya juga akan menyelenggarakan agenda tahunan pengamatan burung atau Bird Walk Tulungagung. Kegiatan ini akan mencakup monitoring burung migran dan sosialisasi tentang Asian Waterbird Census (AWC).
“Jadi kita akan mengajak semuanya yang ingin bergabung untuk mendata, memonitoring jenis-jenis burung air termasuk burung migran yang singgah di kawasan Trenggalek, Tulungagung, Kediri untuk dicatat dan kita laporkan ke internasional,” pungkasnya.(Dan / Ali)







