GUS WAR: KEDAULATAN INDONESIA DIUJI INSTRUMEN KEUANGAN GLOBAL, JANGAN BIARKAN EKONOMI MENJADI SENJATA PENJAJAHAN!

Kediri,Montera.co.id – Di tengah gempuran wacana pertukaran posisi strategis antara Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung dan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Kediri sekaligus Ketua Umum MUI, KH. M. Anwar Iskandar (Gus War), mengeluarkan peringatan keras dari Jawa Timur. Menurutnya, kedaulatan bangsa saat ini tidak lagi diuji oleh senjata api, melainkan melalui “penjajahan ekonomi” dengan instrumen keuangan global sebagai alatnya.

Dalam konferensi pers di kediamannya, Gus War menyoroti kondisi nilai tukar Rupiah yang terus tertekan, bahkan mendekati angka Rp17.000 per dolar AS. Ia menegaskan bahwa stabilitas nasional sangat bergantung pada kemampuan otoritas mengelola arus uang nasional.

“Ekonomi bisa dibuat alat untuk menghancurkan sebuah negara. Kuncinya adalah uang harus bergerak di masyarakat agar produktif,” tegas Gus War dengan nada lugas.

SINERGI “TIGA PILAR” HARUS JADI HARGA MATI

Gus War secara khusus mengingatkan tiga pemegang kekuasaan utama untuk mengakhiri pola kerja sendiri-sendiri. Sinergi antara Otoritas Fiskal (Kementerian Keuangan), Otoritas Moneter (Bank Indonesia), dan Otoritas Politik (DPR RI) dianggap sebagai kunci utama untuk menyelamatkan Rupiah.

Ia berharap pergeseran posisi antara BI dan Kemenkeu yang tengah hangat diperbincangkan bukan sekadar rotasi jabatan belaka, melainkan langkah strategis untuk mempererat koordinasi rutin antara Menteri Keuangan dan Gubernur BI dalam menjaga stabilitas mata uang negara.

KRITIK TAJAM: HENTIKAN “TERNANAK” UANG DI BANK!

Tak hanya menyentuh aspek makro, Gus War juga melontarkan kritik tegas terhadap praktik penumpukan dana di perbankan. Ia mengusulkan tiga strategi konkret untuk menguatkan ekonomi rakyat:

– Suntik Dana ke Sektor Riil: Kebijakan keuangan jangan hanya terpaku pada instrumen deposito. Dana harus dialirkan ke badan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

– Hilirisasi Anggaran Cepat: Anggaran pusat tidak boleh sengaja diendapkan di bank hanya untuk mengejar bunga. Sebaliknya, harus segera diturunkan ke tingkat masyarakat untuk memberikan dampak nyata.

– Likuiditas Sampai ke Akar Rumput: Ekonomi baru akan stabil jika peredaran uang menjangkau lapisan terbawah, sehingga daya beli rakyat tetap terjaga meskipun menghadapi badai ekonomi global.

PESAN DARI KEDIRI: JANGAN BIARKAN RAKYAT MENUNGGU KOSONG

Pesan dari tokoh ulama kharismatik ini dianggap sebagai “alarm penting” bagi pemerintah pusat. Di saat elite politik sibuk dengan proses uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Senayan, rakyat di tingkat bawah tengah menanti langkah konkret untuk meredam dampak pelemahan Rupiah yang semakin mengkhawatirkan.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *