Kediri, Montera.co.id– Kehadiran ikon baru Patung Macan Putih Gemoy di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, yang tengah viral di media sosial, membawa dampak signifikan bagi keramaian desa. Meski kawasan sekitar patung kini diserbu pengunjung dan pedagang, pihak SDN Balongjeruk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan lancar tanpa gangguan.
Aktivitas Sekolah Tetap Prioritas di Tengah Keramaian
Ganda Novade, Guru Kelas V SDN Balongjeruk, menegaskan bahwa hiruk-pikuk wisatawan tidak mengusik konsentrasi siswa. Menurutnya, manajemen waktu menjadi kunci utama mengapa aktivitas pendidikan tetap terjaga.
”Kalau untuk pembelajaran tidak ada gangguan. Ramainya itu justru setelah anak-anak pulang sekolah, sekitar jam setengah tiga sore. Jadi selama jam sekolah, suasana tetap aman dan terkendali,” ujar Ganda saat dikonfirmasi pada Selasa (13/1/2026).
Lonjakan pengunjung biasanya mulai terlihat setelah waktu Asar hingga menjelang Maghrib. Pada jam-jam tersebut, arus lalu lintas di sekitar patung seringkali padat merayap, namun hal ini terjadi di luar jam operasional sekolah.
Penggunaan Lahan Parkir yang Tertata
Untuk mendukung ketertiban di kawasan wisata dadakan tersebut, area sekolah memang dimanfaatkan sebagai lahan parkir. Namun, Ganda menekankan bahwa fungsi ini hanya berlaku setelah siswa pulang, yakni sekitar pukul 13.00 WIB.
”Sekolah hanya dipinjam untuk parkir, bukan untuk jualan. Itu pun dilakukan dengan pengaturan yang ketat. Untuk retribusi juga seikhlasnya, biasanya dialokasikan untuk biaya kebersihan,” terangnya.
Keamanan Siswa Jadi Fokus Utama Guru
Menyikapi kondisi jalanan yang lebih ramai dari biasanya, pihak sekolah memperketat pengawasan terhadap kepulangan siswa. Guru-guru secara bergantian turun ke jalan untuk membantu menyeberangkan anak didik mereka.
Edukasi Harian: Siswa secara rutin diingatkan untuk berhati-hati.
Sistem Antar-Jemput: Mayoritas siswa kini diantar-jemput oleh orang tua, sehingga risiko kecelakaan lalu lintas dapat ditekan.
Pengawasan Ekstra: Guru tetap mendampingi siswa yang belum dijemput hingga orang tua mereka tiba di lokasi.
Menariknya, meski berada di pusat perhatian publik, tingkat kehadiran siswa tetap stabil.
“Alhamdulillah, tidak ada siswa yang bolos akibat euforia ini. Tantangan pasti ada, tapi kami punya cara agar anak-anak tetap fokus pada pelajaran,” tambah Ganda.
Memanfaatkan Momentum Macan Putih Gemoy untuk PPDB
Alih-alih merasa terganggu, SDN Balongjeruk justru melihat popularitas Macan Putih Gemoy sebagai peluang emas untuk promosi sekolah. Ikon desa yang unik tersebut mulai dilibatkan dalam kegiatan dokumentasi sekolah.
Pihak guru sempat mengajak para siswa berfoto bersama patung tersebut. Hasil dokumentasi ini rencananya akan digunakan untuk:
Pembuatan kalender kelas tahunan.
Materi promosi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Konten kreatif media sosial sekolah.
”Bagi anak-anak di sini, keramaian ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari, jadi mereka tidak seheboh pengunjung dari luar daerah. Kami memanfaatkan momen ini agar sekolah juga semakin dikenal luas,” pungkasnya.(Dan/Ali)







