Warung Nasi Botok Bu Nurohmah: Warisan Kuliner Sejak 1992 dengan Bumbu Alami yang Bikin Ketagihan

Kediri,Montera.co.id– Berdiri sejak 1992 di Jalan Raya Putih Gamping Rejo Jampes, Kecamatan Gampeng Rejo (depan makan Syeh Ihsan Bin Syeh Dahlan), Warung Nasi Botok Bu Nurohmah bukan hanya sekadar tempat makan. Warung berusia lebih dari tiga dekade ini menjadi saksi bisu perjalanan seorang wanita berusia 60 tahun yang menjaga tradisi kuliner nenek moyangnya dengan penuh cinta.

Bumbu Spesial Tanpa Pengawet, Rasa Asli yang Memikat

Bu Nurohmah, yang memulai berjualan saat berusia 23 tahun, mengungkapkan keunikan masakannya terletak pada bumbu yang 100% alami. “Bumbunya ini spesial, coronya alami. Cuma kunyit, lengkuas, jeruk purut, gula merah, tomat, kemangi aja. Enggak pakai royco atau penyedap apapun,” ujarnya dengan bangga.

Bumbu utama lainnya hanya menggunakan kemiri dan santan murni, menjadikan cita rasa masakannya autentik dan berbeda dari warung lain. Setiap hari, Bu Nurohmah mampu menghasilkan rata-rata lima kilo hidangan khasnya, bahkan bisa lebih banyak jika ada pesanan pengiriman.

Ikan Bader Asli Sungai, Favorit Pelanggan dari Berbagai Daerah

Andalan warung ini adalah Ikan Bader Pedas, yang diambil langsung dari sungai atau bendungan melalui jaring maupun pemancingan. Ikan yang berasal dari sumber alami tersebut memiliki tekstur daging yang lembut dan gurih, sesuai dengan ucapan Priyo, pembeli pertama kali yang datang pada Selasa (13/1/2026). “Sensasi daging yang lembut dan rasa gurih pas dengan kuanya yang pedas,” puji Priyo.

Selain ikan bader, warung ini juga menyajikan ayam kampung pedas, ayam potong, rempela ati, dan lele. Semua hidangan selalu laku terjual setiap hari. Pelanggan datang tidak hanya dari Kediri, melainkan juga dari Surabaya, Lampung, Lampung Timur, bahkan banyak yang berasal dari Tulung Agung yang dikenal suka dengan rasa pedas. “Sopir-sopir aja sudah tahu, oh masakan pedas di sini,” tambah Bu Nurohmah.

Warisan dari Nenek Moyang, Generasi Kedua yang Kembangkan Ragam Menu

Ide awal berjualan kuliner ini berasal dari tradisi nenek moyang. Bu Nurohmah merupakan generasi kedua yang melanjutkan bisnis kuliner keluarga, meskipun awalnya ibunya hanya menjual makanan dengan kemasan botol dan tidak menyertakan ikan bader.

“Saya nambahin ayam kampung, ikan bader, dimasak lodoh pedas sama masak pedas,” jelasnya. Harga hidangan di warung ini sangat terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000 untuk porsi terbesar.

Pelanggan Setia Rutin Datang, Malah Ngajak Temen

Muktar, salah satu pelanggan tetap, mengaku warung ini sudah menjadi favoritnya sejak dulu. “Dulu diajak temen, sekarang saya ngajak temen. Saya kesini jika diinformasikan melalui WhatsApp ada ikan bader,” ujarnya dengan senyum.

Bu Nurohmah mengaku tidak berencana mengubah resep bumbu yang sudah terbukti nikmat. “Anak saya enggak seperti ibu, jadi kalau mereka bikin kurang enak. Jadi ini belum bisa ganti bumbu,” katanya tegas.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *