2.463 Pasangan di Kediri Cerai Sepanjang 2025 Akibat Masalah Ekonomi, Hutang Jadi Pemicu Utama

Kediri,montera.co.id – Tren perceraian di Kabupaten Kediri sepanjang tahun 2025 mencatat angka yang memprihatinkan. Bukan sekadar masalah ketidakcocokan emosional, tekanan ekonomi dan rendahnya literasi keuangan keluarga justru menjadi “bom waktu” utama yang menghancurkan ribuan rumah tangga di wilayah tersebut.

​Berdasarkan data terbaru dari Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Kediri, tercatat sebanyak 3.535 perkara perceraian yang masuk sepanjang tahun 2025. Dari total tersebut, mayoritas atau sebanyak 2.463 perkara dipicu oleh persoalan ekonomi. Angka ini jauh melampaui faktor penyebab lainnya seperti perselingkuhan, perselisihan terus-menerus, hingga Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Dampak Psikologi Keuangan Terhadap Keharmonisan
​Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Kadiri (Uniska), Dr. Ujang Syahrul Mubarok, menyoroti bahwa masalah finansial dalam keluarga tidak pernah berdiri sendiri. Tekanan ekonomi sering kali berimbas langsung pada kondisi psikologis pasangan, terutama kepala keluarga.

​”Faktor ekonomi menjadi yang paling dominan di Kabupaten Kediri. Ketika ekonomi bermasalah, dampaknya bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan fisik, tapi menyerang psikologi keluarga,” ujar Dr. Ujang pada Kamis (22/1/2026).

​Menurutnya, ada dua tipologi utama masalah ekonomi yang sering muncul di persidangan:

​Suami yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau menganggur.
​Suami yang sudah bekerja, namun penghasilannya tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup.

Jeratan Hutang dan Rendahnya Literasi Keuangan
​Salah satu pemicu stres paling signifikan yang ditemukan di lapangan adalah jeratan hutang. Dr. Ujang menjelaskan bahwa ketika kewajiban cicilan gagal dipenuhi, tekanan dari pihak luar sering kali memicu emosi yang tidak terkendali.

​”Hutang yang tidak terbayar membuat seseorang mudah marah. Hubungan dengan istri dan anak menjadi tidak harmonis, sehingga konflik kecil pun bisa berujung fatal,” tambahnya.

​Ia juga menyayangkan masih rendahnya literasi keuangan keluarga di masyarakat. Meski akses ke layanan perbankan sudah baik, pemahaman tentang manajemen arus kas rumah tangga masih sangat minim. Banyak kepala keluarga yang belum memahami porsi ideal pengeluaran, tabungan, hingga dana darurat.

Tips Kelola Keuangan Keluarga agar Minim Konflik
​Sebagai solusi praktis, Dr. Ujang membagikan rumus sederhana pengelolaan keuangan untuk menjaga stabilitas rumah tangga:

​50 Persen: Dialokasikan untuk kebutuhan pokok (pangan, listrik, air).

​30 Persen: Untuk pendidikan anak dan pengembangan kualitas keluarga.

​Maksimal 20 Persen: Untuk cicilan hutang (disarankan ditekan seminimal mungkin).

​”Literasi keuangan memang tidak menghapus perceraian secara total, tapi mampu menekan konflik yang bersumber dari uang. Peran istri juga krusial untuk bersikap realistis terhadap kondisi ekonomi suami,” tegasnya.

Pentingnya Edukasi Pra-Nikah dan Peran Pemerintah
​Melihat fenomena ini, Uniska Kediri mendorong adanya kolaborasi lintas sektor. Mulai dari penguatan edukasi ekonomi di tingkat kampus, hingga peran Kantor Urusan Agama (KUA) untuk memberikan pembekalan literasi keuangan yang lebih mendalam pada proses bimbingan pra-nikah.

​Dr. Ujang berpesan kepada pasangan muda bahwa pernikahan bukan sekadar tentang cinta, melainkan kesiapan mental dan finansial jangka panjang. “Pernikahan itu napasnya panjang. Tanpa pengetahuan keuangan yang baik, pondasi keluarga akan mudah rapuh,” pungkasnya.(Dan/Ali)

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *